KELAINAN DIDAPAT SALURAN PENCERNAAN PADA ANAK DAN DEWASA

Posted: September 15, 2010 in Uncategorized

  1. ANATOMI DONDING ABDOMEN

Abdomen adalah yaitu bagian batang badan yang terdapat di kaudalis dada dan di bawah dibatasi oleh lig.inguinale & panggul. Rongga yang terdapat di dalam abdomen disebut cavum abdominis.

Alat tractus digestivus yang terdapat dalam cavum abdomen adalah:

  1. Gaster.
  2. Duodenum.
  3. Yeyenum.
  4. Ileum.
  5. Caecum & appendix vermiformis.
  6. Colon Asc.
  7. Colon Trans.
  8. Colon Desc
  9. Colon Signoid

Dinding perut dibentuk oleh Di bentuk oleh :

  1. Depan, oleh Otot-otot lurus perut
  2. Samping, oleh Otot-otot serong perut.
  3. Belakang, oleh m.quadratus lumborum, Otot-otot punggung, Columna vertebralis

Otot-otot lurus perut adalah

  1. m.rectus abdominis
  2. M.pyranidalis

Otot-otot serong perut adalah

  1. m.obligus abdoninis externus (lapisan dinding luar perut)
  2. m.obligus abdominis internus. (lapisan tengah dinding perut )
  3. m.transversus abdominis (lapisan yang terdalam)

otot-otot dinding belakang perut adalah

  1. m.quadratus lumborum.
  2. m.psoas mayor.
  3. m.psoas minor.

Bidang khayal pada dinding abdomen adalah

1. Bidang Vertikal

  • Bidang Median
  • Bidang Vertikal Lateral (lanjutan dari thorak)

2. Bidang Horizontal

  • Bidang Transpylori, bidang melalui pertengahan antara pusat dengan junctura xyphosternalis melalui lumbalis I.
  • Bidang Subcostalis, bidang yang melalui arcus costarum yang terendah kira-kira setinggi bagian bawah cor.vert. LIII.
  • Bidang Umbilicalis, bidang yang melalui pusat kira 2½ – 3½ Cm. diatas bidang transtubercularis.
  • Bidang Transtubercularis, bidang yang melalui crista iliaca tertinggi ki & ka. melalui bagian bawah corpus vert.lumbal V.
  • Bidang Spinosi, bidang yang melalui spina iliaca ant. sup. ki-ka.

 

Regio abdomen adalah

1. Regio ABD Cranialis, yaitu

  • Regia hypochondrica dextra.
  • Regio epigastrica.
  • Regio hypochondrica sinistra.

2. Regio Mesogastrica

  • Regio abd lateralis dextra.
  • Regio umbilicalis
  • Regio abd lateralis sinistra

3. Regio Hypogastrica

  • Regio inguinalis dextra.
  • Regio pubica.
  • Regio inguinalis sinistra.

 

2. GER (GASTROESOPHAGEAL REFLUX) dan GERD (GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE)

Refluks gastroesofagus (GER) didefinisikan sebagai kembalinya isi lambung ke esofagus atau lebih proksimal.Isi lambung tersebut bisa berupa asam lambung, udara maupun makanan. RGE ini bisa murni akibat gangguan secara fungsional tanpa adanya kelainan lain.Bisa juga akibat adanya gangguan struktural yang terdapat pada esofagus maupun gaster yang mempengaruhi penutupan sfingter esofagus bawah (SEB), seperti kelainan anatomi kongenital, tumor, komplikasi operasi, tertelan zat korosif dan lain-lain.

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) didefenisikan sebagai refluks yang meningkat, baik dari frekuensi dan lamanya, jika terjadi regurgitasi bahan-bahan refluks dan kehilangan kalori, atau bahan-bahan refluks merusak mukosa esofagus dan menyebabkan esofagitis.

Tabel  Perbedaan gambaran klinis GER dan GERD pada bayi dan anak

GER (Gastroesophageal Reflux) GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
Regurgitasi dengan BB normalGejala dan tanda esofagitis tidak ada

Gejala gangguan pernafasan tidak ada

Gejala gangguan neurologis tidak ada

Regurgitasi dengan penurunan BBGelisah persisten (persistent irritability) bayi terlihat kesakitan

Sakit dada bawah, sakit menelan, pirosis pada anak

Hematemesis, anemia defisiensi besi.

Apnu, sianosis pada bayi, mengalami Pnemonia aspirasi dan berulang, Batuk kronis, Stridor

Posisi leher menjadi miring

Penyebab terjadinya GER adalah sebagai berikut

1. Tekanan lambung lebih tinggi dari pada tekanan esofagus.

1)      Obstruksi

  • Stenosis pilorus
  • Tumor abdomen
  • Makan terlalu banyak

2)      Peningkatan peristalsis, karena gastroenteritis

3)      Peningkatan tekanan abdomen

  • Obesitas.
  • Memakai pakaian terlalu ketat
  • Pemanjangan waktu pengosongan lambung

2. Tekanan lambung sama dengan tekanan esophagus

1)      Gangguan faal, disebabkan saluran esophagus bawah longgar

  • Chalasia
  • Adult-ringed esophagus
  • Obat–obat asma
  • Merokok
  • Pemakaian pipa nasogastrik

2)      Hiatal hernia

Sebagian isi lambung memasuki rongga dada dan menyebabkan posisi lambung tidak normal.

3. Faktor–faktor lain yang mempengaruhi

  • Penyakit gastrointestinal lain ( penyakit Crohn )
  • Eradikasi Helicobacter pylori
  • Faktor genetik
  • Reaksi respon imun berlebihan
  • Obat–obat yang mempengaruhi asam lambung; NSAIDs, calcium
  • channel blockers, dan lain–lain.

 

Gejala Klinis

Dengan mengamati gejala klinis yang timbul maka pemeriksaan penunjang untuk diagnose dapat sangat selektif dilakukan pada penderita yang diduga kuat menderita RGE. Beberapa gejala klinis yang timbul pada GER ini adalah sebagai berikut:

1. Manifestasi klinis akibat refluks asam lambung.

  • Sendawa (pirosis)
  • Mual.
  • Muntah
  • Sakit uluhati
  • Sakit menelan
  • Hematemesis melena
  • Striktura
  • Iritabel (bayi)
  • Gangguan pada saluran pernafasan
  • Erosi pada gigi

2. Manifestasi klinis akibat refluks gas (udara)

  • Eructation
  • Cekukan
  • Rasa penuh setelah makan
  • Mudah merasa kenyang
  • Perut sering gembung

3. Manifestasi klinis akibat refluks makanan dan minuman

  • Muntah.
  • Menolak diberi makanan (pada bayi dan anak)
  • Aspirasi ke saluran pernafasan (apnu, SIDS)
  • Anemia
  • Penurunan berat badan
  • Gagal tumbuh
  • Retardasi psikomotor
  • Sandifer syndrome (dimana terjadi hiper-ekstensi leher dan torticolis pada bayi)

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Barium per Oral

Prinsip pemeriksaan adalah melihat refluks bubur barium. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk melihat adanya kelainan struktural dan kelainan anatomis dari esofagus, adanya inflamasi dan esofagitis dengan erosi yang hebat (inflamasi berat). Ketika pemeriksaan ini dilakukan pasien diberi minum bubur barium, baru foto rongen dilakukan. Pada pemeriksaan ini dapat terlihat adanya suatu ulkus, hiatal hernia, erosi maupun kelainan lain.

Tetapi pemeriksaan ini tidak dapat mendeteksi ulkus ataupun erosi yang kecil. Pada pemeriksaan ini bisa terjadi positif semu jika pasien menangis selama pemeriksaan, peningkatan tekanan intraabdomen dan meletakkan kepala lebih rendah dari tubuh. Bisa juga terjadi negatif semu jika bubur barium yang diminum terlampau sedikit. Kelemahan lain, refluks tidak dapat dilihat jika terjadi transient low oesophageal sphincter relaxation (TLSOR).

2. Manometri Esophagus

Manometri merupakan suatu teknik untuk mengukur tekanan otot. Caranya adalah dengan memasukkan sejenis kateter yang berisi sejenis transduser tekanan untuk mengukur tekanan. Kateter ini dimasukkan melalui hidung setelah pasien menelan air sebanyak 5 ml. Ukuran kateter ini kurang lebih sama dengan ukuran pipa naso-gastrik. Kateter ini dimasukkan sampai transduser tekanan berada di lambung. Pengukuran dilakukan pada saat pasien meneguk air sebanyak 10–15 kali. Tekanan otot spingter pada waktu istirahat juga bisa diukur dengan cara menarik kateter melalui spingter sewaktu pasien disuruh melakukan gerakan menelan. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui baik tidaknya fungsi esofagus ataupun SEB dengan berbagai tingkat berat ringannya kelainan.

3. Pemantauan pH Esophagus

Pemantauan pH esofagus dilakukan selama 24 jam. Uji ini merupakan cara yang paling akurat untuk menentukan waktu kejadian asidifikasi esofagus serta frekuensi dan lamanya refluks. Prinsip pemeriksaan adalah untuk mendeteksi perubahan pH di bagian distal esofagus akibat refluks dari lambung. Uji memakai suatu elektroda mikro melalui hidung dimasukkan ke bagian bawah esofagus. Elektroda tersebut dihubungkan dengan monitor komputer yang mampu mencatat segala perubahan pH dan kemudian secara otomatis tercatat. Biasanya yang dicatat episode refluks yang terjadi jika terdeteksi pH < 4 di esofagus untuk jangka waktu 15–30 detik. Kelemahan uji ini adalah memerlukan waktu yang lama, dan dipengaruhi berbagai keadaan seperti: posisi pasien, frekuensi makanan, keasaman dan jenis makanan, keasaman lambung, pengobatan yang diberikan dan tentunya posisi elektroda di esofagus.

4. Uji Berstein

Uji Berstein termasuk uji provokasi untuk melihat apakah pemberian asam dalam jumlah kecil ke dalam esofagus dapat membangkitkan gejala RGE. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan bahwa kelainan bersumber pada esofagus jika pemeriksaan lain memberikan hasil negatif. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan garam fisiologis melalui pipa nasogastrik sebanyak 7 – 8 ml per menit selama 10 menit diikuti pemberian 0.1 N larutan asam hidroklorida (waktu maksimal untuk pemeriksaan adalah 20 menit). Kemudian pasien mengatakan setiap keluhan atau gejala yang timbul. Jika uji Bernstein positif maka pasien dikatakan hipersensitif atau hiperresponsif terhadap rangsangan asam.

5. Endoskopi dan Biopsi

Pemeriksaan endoskopi (esofagogastroduodenoskopi atau panendoskopi) memungkinkan untuk melihat dan sekaligus melakukan biopsi epitel esofagus. Endoskopi dan biopsi dapat menentukan ada dan beratnya esofagitis, striktura dan esofagitis Barret, serta dapat menyingkirkan kelainan lain seperti penyakit Crohn. Tapi gambaran normal esofagus selama endoskopi belum tentu tidak ada esofagitis secara histopatologi. Jika esofagitis tidak terlihat maka perubahan mukosa menjadi hiperemis maupun pucat harus menjadi perhatian. Oleh karena itu jika pemeriksaan endoskopi dilakukan, sebaiknya dilakukan juga biopsi.

6. Scintigrafi

Pemeriksaan sintigrafi untuk mendeteksi adanya RGE sudah lama dikenal di kalangan ahli radiologi. Selain karena sensitivitasnya yang lebih baik dari pemeriksaan barium peroral, juga mempunyai radiasi yang lebih rendah sehingga aman bagi pasien. Prinsip utama pemeriksaan sintigrafi adalah untuk melihat koordinasi mekanisme aktifitas mulai dari orofaring, esofagus, lambung dan waktu pengosongan lambung. Kelemahan modalitas ini tidak dapat melihat struktur anatomi. Gambaran sintigrafi yang terlihat pada refluks adalah adanya gambaran spike yang keluar dari lambung. Tinggi spike menggambarkan derajat refluks sedangkan lebar spike menggambarkan lamanya refluks.

7. Ultrasonografi

Pada beberapa sentra pemeriksaan USG sudah dimasukkan ke dalam pemeriksaan rutin untuk mendeteksi adanya refluks. Malah dikatakan bahwa USG lebih baik dari pemeriksaan barium per oral maupun sintigrafi. Tetapi beberapa penelitian menyebutkan bahwa USG tidak mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang baik sehingga tidak dianjurkan. Kelemahan yang lain adalah lamanya waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan dan pada beberapa kasus terdapat kesulitan untuk melihat bentuk esofagus (echotexture).

 

Tatalaksana

Tatalaksana pada GER adalah

1.Meru bah gaya hidup dan kebiasaan

2. Obat-obatan

Obat-obatan yang digunakan adalah

  • Antasida
  • Antagonis reseptor H2
  • Prokinetik
  • Proton pump inhibitor

3. Operasi

Indikasi operasi adalah jika RGE menyebabkan:2,3

  • Muntah persisten dengan gagal tumbuh.
  • Esofagitis atau adanya striktur esofagus.
  • Penyakit paru kronis atau apneic spell yang tidak respon dengan pengobatan selama 2–3 bulan.
  • Anak berusia > 18 bulan, dengan hiatus hernia yang besar.
  • Anak dengan gangguan neurologis yang tidak respon dengan obat- obatan

 

3. HERNIA

1. Pengertian

Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.

2. Bagian-bagian Hernia

Bagian-bagian hernia adalah

  • Kantong hernia: pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis
  • Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus
  • Locus Minoris Resistence (LMR)
  • Cincin hernia: Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia
  • Leher hernia: Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

 

3. Klasifikasi Hernia

1)      Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :

  • hernia bawaan (kongenital)
  • hernia yang didapat (akuisita)

2)      Berdasarkan letaknya, hernia dibagi menjadi

  • Hernia interna
  • Hernia eksterna

3)      Berdasarkan sifatnya, hernia dibagi menjadi

  • Hernia reponible, yaitu terjadi jika isi hernia dapat keluar masuk, isi hernia keluar biasanya pada saat berdiri atau mengedan (aktifitas) dan masuk pada saat tiduran (istirahat) , hernia jenis ini biasanya tanpa keluhan.
  • Hernia irreponible, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk karena sudah ada perlekatan antara isi hernia dengan kantongnya, hernia jenis ini biasanya tanpa keluhan nyeri maupun gangguan pasase usus.
  • Hernia inkaserata, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk kerena adanya jepitan isi hernia oleh cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan pasase usus seperti mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus.
  • Hernia strangulata, yaitu terjadi jika isi hernia megalami jepitan oleh cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan pasase (obstruksi) dan gangguan vaskularisasi. Gangguan pasase dapat berupa mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus dan gangguan vaskularisasi dapat berupa nyeri yang menyerupai cholik yang lama kelamaan bisa menetap dan dapat diikuti dengan nekrosis daerah yang mengalami jepitan bahkan dapat terjadi perforasi. Bila hernia strangulata hanya menjepit sebagian dinding usus biasanya disebut hernia Richter.

4. Factor Predisposisi

Hal-hal yang mempermudah terjadinya suatu hernia antara lain :

  • Riwayat batuk lama : TBC paru
  • Pekerja pengangkat beban berat
  • Trauma
  • Konstipasi lama
  • Usia tua
  • Hipertrofi prostat
  • Iatrogenik
  • Obesitas
  • Kebiasaan mengejan saat BAB

 

5. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hernia dapat dilakukan dalam beberapa tindakan, antara lain:

1)      Konservatif

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.

2)      Operatif

Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.

  • Herniotomi

Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

  • Hernioplasti

Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

 

6. Pencegahan

Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan abdomen:

1)      Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan, konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai.

2)      Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah konstipasi.

3)      Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu pada pinggang.

4)      Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.

 

4. INVAGINASI

1. Defenisi

Intususepsi atau invaginasi adalah suatu keadaan masuknya segmen usus ke segmen bagian distalnya yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi (Mansjoer. R. 2000)

2. Epidemiologi

Intususepsi lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan (Mansjoer. R. 2000). Angka kejadian pada anak laki-laki 3 kali lebih besar bila dibandingkan anak perempuan (kidshealth. org, 2001). Seiring dengan pertambahan umur, perbedaan kelamin menjadi bermakna. Pada anak usia lebih dari 4 tahun, rasio insidensi anak laki-laki dengan anak perempuan adalah 8 : 1. (emedicine, 2001)

3. Etiologi

Pada bayi lebih dari 3 tahun, bisa disebabkan faktor mekanik, seperti :

  • Meckel diverticulum
  • Polip pada untestinum
  • Lymposarcoma intestinum
  • Trauma tumpul pada abdominal dengan hematom
  • Hemangioma  emedicine.com, 2003).

Selain itu beberapa penelitian menunjukkan peranan rotavirus pada penyebab invaginasi.

4. Gejala Klinis

Gejala yang tampak adalah nyeri perut yang hebat, mendadak dan hilang timbul dalam waktu beberapa detik hingga menit dengan interval waktu 5-15 menit. Diluar serangan, anak tampak sehat. (www.pediatrik.com, 2003). Bayi dengan intususepsi akan mengalami nyeri abdomen yang sangat mendadak sehingga mereka menangis dengan sangat kesakitan dan keras. Bayi tersebut akan menarik lututnya ke dada.  kidshealth.org, 2001)

Anak sering muntah dan dalam feses sering ditemukan darah dan lendir. Secara bertahap anak akan pucat dan lemas, bisa menjadi dehidrasi, merasa demam, dan perut mengembung. (www.gosh, 2002).Selain itu, ada gejala-gejala seperi anak menjadi cepat marah, nafas dangkal, mendengkur, konstipasi  kidshealth.org, 2001).

5. Diagnosis

Anamnesa dengan keluarga dapat diketahui gejala-gejala yang timbul dari riwayat pasien sebelum timbulnya gejala, misalnya sebelum sakit, anak ada riwayat dipijat, diberi makanan padat padahal umur anak dibawah 4 bulan.  kidshealth.org, 2001).Pemeriksaan fisik, pada palipasi diperoleh abdomen yang mengencang, massa seperti sosis  kidshealth.org, 2001).

Pemeriksaan penunjang dilakukan X-ray abdomen untuk melihat obstruksi  kidshealth.org.2001).Pemeriksaan ultrasound bisa melihat kondisi secara umum dengan menggunakan gelombang untuk melihat gambaran usus di layar monitor (www.gosh, 2002).

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan invaginasi adalah

  • Terapi cairan intravena
  • Pemasangan nasogastrik tube
  • Barium enema untuk reduksi invaginasi
  • Operasi, jika tindakan dengan barium enema tidak berhasil

7. Komplikasi

Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat, seperti kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi dan kematian  kidshealth.org, 2001).

8. Prognosis

Invaginasi dengan terapi sedini mungkin memiliki prognosis yang baik. Terdapat resiko untuk kambuh lagi  familidoctor.org, 2003)

9. Differensial diagnosis

Differensial diagnosis pada invaginasi adalah

  • Trauma Abdomen
  • Appendisitis Akut
  • Hernia
  • Gastroenteritis
  • Torsi testis
  • Perlengketan jaringan
  • Volvulus
  • Meckel diverticulum
  • Perdarahan G 1
  • Proses-proses yang menumbuhkan nyeri abdomen  emedicine.com, 2003).

 

5. HEMORRHOID

1. Defenisi

Hemorrhoid adalah dilatasi varikosus vena dari pleksus hemoroidalis inf/sup.

2. Etiologi

Etiologi hemorrhoid adalah

  • Obstruksi vena
  • Prolaps bantalan anus
  • Keturunan
  • Diet dan geografis
  • Kebiasaan defekasi
  • Tonus sfingter anus

3. Gejala klinis

Gejala klinis hemorrhoid adalah

  • Perdarahan melalui anus
  • Prolaps atau benjolan anus
  • Nyeri dan rasa tidak aman
  • Secret, pruritus dan hygiene kurang

4. Komplikasi

Komplikasi yang muncul adalah

  • Trombosis dan infeksi bantalan vaskuler interna
  • Edema
  • Trombosis vaskuler ekterna
  • Anemia
  • Dermatitis perianal

5. Diagnosis

Diagnose hemorrhoid ditegakkan dengan diagnose

  • Anamnesa
  • Pemeriksaan fisik
  • Inspeksi perianal
  • Palpasi
  • Anuskopi
  • Sigmoidoskopi

6. Klasifikasi

Klasifikasi hemorrhoid adalah

  • Stadium I

Pada stadium I terjadi perdarahan, tetapi tidak terjadi prolaps

  • Stadium II

Pada stadium II, terdapat bantalan prolaps seperti dibawah L.Dentata  saat mengedan dan hilang spontan, selain itu terdapat secret dan pruritus

  • Stadium III

Pada stadium III, terdapat bantalan anus yang keluar saat mengedan dan tetap diluar sampai direposisi manual, selain itu biasanya terdapat kotoran dalam pakaian dalam.

  • stadium  IV

Pada stadium IV, terdapat nyeri, prolaps tidak dapat direposisi secara manual, dan terdapat bantalan interna yang ditutupi mukosa.

7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hemorrhoid ini adalah

  • Pencegahan

Usaha yang dapat dilakukan adalah

1)      Memberikan nasehat

2)      menghindari konstipasi kronik

3)      mengkonsumsi makanan berserat tinggi

4)      menghindari makanan yang pedas

5)      menggunakan toilet jongkok

  • Medikamentosa

Obat yang digunakan adalah Obat simtomatik nyeri ,gatal ,salep antiseptik,analgetik, vasokonstriktor.

  • Tindakan invasiv

Tindakan invasive yang dapat dilakukan adalah

1)      Skleroterapi

2)      Rubber Band Ligation

3)      Cryotheraphy atau cryosurgery

4)      Coagulation infra red

5)      Bipolar diathermy

6)      Tindakan operasi

 

6. PERDARAHAN SALURAN PENCERNAAN

1. Defenisi

Perdarahan bisa terjadi dimana saja di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam tinja atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan tertentu.

2. Etiologi

Penyebab perdarahan pada saluran pencernaan :
a. Kerangkongan, di antaranya disebabkan oleh:

  • Robekan jaringan
  • Kanker

b. Lambung, di antaranya disebabkan oleh:

  • Luka kanker atau non-kanker
  • Iritasi (gastritis) karena aspirin atau Helicobacter pylori

c. Usus halus, di antaranya disebabkan oleh:

  • Luka usus dua belas jari non-kanker
  • Tumor ganas atau jinak

d. Usus besar, di antaranya disebabkan oleh:

  • Kanker
  • Polip non-kanker. Penyakit peradangan usus (penyakit Crohn atau kolitis ulserativa)
  • Penyakit divertikulum
  • Pembuluh darah abnormal di dinding usus (angiodisplasia)

e. Rektum, di antaranya disebabkan oleh:

  • Kanker
  • Polip non-kanker
  • Anus, di antaranya disebabkan oleh Hemoroid dan Robekan di anus (fisura anus)

3. Manifestasi Klinik

Gejalanya bisa berupa:

  • muntah darah (hematemesis)
  • mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
  • mengeluarkan darah dari rektum (hematoskezia)

Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Sekitar 200 gram darah dapat menghasilkan tinja yang berwarna kehitaman.

Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejala-gejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing. Jika terdapat gejala-gejala tersebut, dokter bisa mengetahui adanya penurunan abnormal tekanan darah, pada saat penderita berdiri setelah sebelumnya berbaring.

Gejala yang menunjukan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah, bisa menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan bahkan syok.

Gejala kehilangan darah yang serius bisa berbeda-beda, tergantung pada apakah penderita memiliki penyakit tertentu lainnya. Penderita dengan penyakit arteri koroner bisa tiba-tiba mengalami angina (nyeri dada) atau gejala-gejala dari suatu serangan jantung. Pada penderita perdarahan saluran pencernaan yang serius, gejala dari penyakit lainnya, seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru dan gagal ginjal, bisa bertmbah buruk. Pada penderita penyakit hati, perdarahan ke dalam usus bisa menyebabkan pembentukan racun yang akan menimbulkan gejala seperti perubahan kepribadian, perubahan kesiagaan dan perubahan kemampuan mental (ensefalopati hepatik).

4. Diagnosa

Pemeriksaan ditujukan untuk menemukan sumber perdarahan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah

  • Endoskopi
  • Biopsy
  • Rontgen dengan menggunakan barium enema
  • angiografi

5. Penatalaksanaan

Pada lebih dari 80% penderita, tubuh akan berusaha menghentikan perdarahan. Penderita yang terus menerus mengalami perdarahan atau yang memiliki gejala kehilangan darah yang jelas, seringkali harus dirawat di rumah sakit dan biasanya dirawat di unit perawatan intensif.

Bila darah hilang dalam jumlah besar, mungkin dibutuhkan transfusi. Untuk menghindari kelebihan cairan dalam pembuluh darah, biasanya lebih sering diberikan transfusi sel darah merah (PRC/Packed Red Cell) daripada transfusi darah utuh (whole blood). Setelah volume darah kembali normal, penderita dipantau secara ketat untuk mencari tanda-tanda perdarahan yang berlanjut, seperti peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah atau kehilangan darah melalui mulut atau anus.

Perdarahan dari vena varikosa pada kerongkongan bagian bawah dapat diobati dengan beberapa cara. Diantaranya dengan memasukkan balon kateter melalui mulut ke dalam kerongkongan dan mengembangkan balon tersebut untuk menekan daerah yang berdarah. Cara lain ialah dengan menyuntikan bahan iritatif ke dalam pembuluh yang mengalami perdarahan, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut pada pembuluh balik (vena) tersebut.

Perdarahan pada lambung sering dapat dihentikan melalui endoskopi. Dilakukan kauterisasi pembuluh yang mengalami perdarahan dengan arus listrik atau penyuntikan bahan yang menyebabkan penggumpalan di dalam pembuluh darah. Bila cara ini gagal, mungkin perlu dilakukan pembedahan.

Perdarahan pada usus bagian bawah biasanya tidak memerlukan penanganan darurat. Tetapi bila diperlukan, bisa dilakukan prosedur endoskopi atau pembedahan perut. Kadang-kadang lokasi perdarahan tidak dapat ditentukan dengan tepat, sehingga sebagian dari usus mungkin perlu diangkat.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dorland. Kamus Kedokteran. EGC: Jakarta. 2002.
  2. Supriatmo.2003. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Refluks Gastroesofagus Pada Anak Usia Sekolah Dasar. http://www.USU.ac.id. Diunduh pada tanggal 28 September 2009.
  3. Sri Mayarni Sutadi.2003.Pola Keganasan Saluran Cerna Bagian Atas dan Bawah secara Endoskopi di H.Adam Malik – Medan. http://www.USU.ac.id. Diunduh pada tanggal 28 September 2009.
  4. Prof. DR. dr. Yanwirasti. Slide kuliah pengantar: Abdomen
  5. Dr. H. Asri Zahari, Sp.BD (K). Slide kuliah pengantar: Diagnosis dan penatalaksanaan Hemorrhoid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s