KESEHATAN USIA LANJUT (LANSIA)

Posted: Januari 5, 2011 in Uncategorized

1. PERUBAHAN FISIK PADA USIA LANJUT

Perubahan fisik pada usia lanjut meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a. Sistem pernafasan pada lansia.

Perubahan yang terjadi pada system pernapasan lansia adalah

  1. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
  2. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
  3. Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
  4. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
  5. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
  6. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
  7. kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

b. Sistem Persyarafan

Perubahan yang terjadi pada system persyarafan lansia adalah

  1. Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
  2. Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
  3. Mengecilnya syaraf panca indera.
  4. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

c. Panca indera

Perubahan yang terjadi pada panca indera lansia adalah

1)      Penglihatan, perubahan penglihatan yang terjadi adalah

  • Kornea lebih berbentuk skeris.
  • Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
  • Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
  • Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
  • Hilangnya daya akomodasi.
  • Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
  • Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.

2)      Pendengaran, perubahan pendengaran yang terjadi adalah

  • Presbiakusis (gangguan pada pendengaran), hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
  • Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
  • Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.

3)      Pengecap dan penghidu, perubahan pengecap dan penghidu yang terjadi adalah

  • Menurunnya kemampuan pengecap.
  • Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.

4)      Peraba, perubahan peraba yang terjadi adalah

  • Kemunduran dalam merasakan sakit.
  • Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

d. Perubahan cardiovascular

Perubahan yang terjadi pada system cardiovascular lansia adalah

  1. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
  2. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
  3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
  4. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
  5. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).

e. Sistem Genito Urinaria

Perubahan yang terjadi pada system genitor urinaria lansia adalah

  1. Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
  2. Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
  3. Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
  4. Atropi vulva.
  5. Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.
  6. Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.

f. Sistem Endokrin/metabolic

Perubahan yang terjadi pada system endokrin/metabolik lansia adalah

  1. Produksi hampir semua hormon menurun.
  2. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
  3. Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
  4. Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.
  5. Menurunnya produksi aldosteron.
  6. Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.
  7. Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

g. Sistem Pencernaan

Perubahan yang terjadi pada system pencernaan lansia adalah

  1. Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
  2. Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
  3. Esofagus melebar.
  4. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
  5. Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
  6. Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
  7. Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

h. Sistem musculoskeletal

Perubahan yang terjadi pada system muskuloskeletal lansia adalah

1)      Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.

2)      resiko terjadi fraktur.

3)      kyphosis

4)      persendian besar & menjadi kaku.

5)      pada wanita lansia > resiko fraktur.

6)      Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.

7)      Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).

  • Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan.
  • Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus.
  • Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus
  • Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.

i. Sistem kulit dan jaringan ikat

Perubahan yang terjadi pada system kulit dan jaringan ikat lansia adalah

1)      Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2)      Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa

3)      Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.

4)      Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.

5)      Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.

6)      Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.

7)      Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.

8)      Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.

9)      Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

10)  Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.

j. Sistem Reproduksi dan kegiatan sexual

Perubahan yang terjadi pada system reproduksi dan kegiatan sexual lansia adalah

1)      Sistem Reproduksi, perubahan yang terjadi adalah

a)      selaput lendir vagina menurun/kering.

b)      menciutnya ovarium dan uterus.

c)      atropi payudara.

d)     testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.

e)      dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.

2)      Kegiatan seksual, perubahan yang terjadi

Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas.

Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.

2. PERUBAHAN MENTAL PADA USIA LANJUT

Streotipe psikologik orang lanjut usia adalah sebagai berikut

1.      Tipe Konstruktif

Orang ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidupnya, mempunyai toleransi tinggi, humanistic, fleksibel (luwes), dan tahu diri. Biasanya sifat-sifat ini dibawa sejak muda. Orang ini dapat menerima fakta-fakta proses menua mengalami masa pension dengan tenang, juga dalam menghadapi masa akhir.

2.      Tipe Ketergantungan

Orang ini pasif, tidak berambisi, tidak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis. Biasanya dikuasai istrinya. Orang tipe ini senang mengalami pension, malahan biasanya banyak makan dan minum, tidak suka bekerja dan senang untuk berlibur.

3.      Tipe defensive

Orang tipe ini biasanya dulu mempunyai pekerjaan/jabatan tidak stabil, bersifat selalu menolak bantuan, dan seringkali emosinya tidak dapat dikontrol, memegang teguh terhadap kebiasaannya bersifat kompulsif aktif. Orang tipe ini takut menghadapi kenyataan menjadi tua dan tak menyenangi masa pension.

4.      Tipe Bermusuhan

Orang tipe ini menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh, bersifat agresif, curiga. Biasanya dahulu mempunyai pekerjaan yang tidak stabil. Menjadi tua dianggap tidak ada hal-hal yang baik, takut mati, iri hati pada orang yang muda.

5.      Tipe Membenci/Menyalahkan Diri Sendiri

Orang tipe ini bersifat kritis, menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, mengalami penurunan kondisi sosioekonomi. Biasanya perkawinannya tidak bahagia, punya sedikit hobby, merasa menjadi korban dari keadaan.

Beberapa masalah di bidang psikogeriatri

1.      Kesepian

Biasanya dialami oleh seorang lanjut usia saat meninggalkan pasangan hidup atau teman dekat, terutama bila dirinya saat itu juga mengalami berbagai penurunan status kesehatan.

2.      Duka cita

Meninggalnya pasangan hidup, seorang teman dekat atau bahkan seekor hewan yang sangat disayangi, bisa mendadak memutuskan ketahanan kejiwaan yang sudah rapuh dari seorang lansia yang selanjutnya akan memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatannya.

3.      Depresi

Berupa apatis dan penarikan diri dari aktivitas social, gangguan memori, perhatian serta memburuknya kognitif secara nyata

4.      Gangguan cemas

Berupa fobia, gangguan panic, gangguan cemas umum, gangguan stress pasca trauma dan gangguan obsesif-kompulsif.

3. PENYAKIT SISTEMIK DAN IMUNISASI PADA USIA LANJUT

Sistem imunitas tubuh orang tua ditingkatkan melalui upaya imunisasi dan nutrisi. Tujuan imunisasi untuk memelihara sistem imunitas melawan agen infeksi. Imunisasi/vaksin mengandung substansi antigen yang sama dengan patogen asing agar sistem imun kenal patogen asing dengan menghasilkan sel T dan sel B. Influenza dan pneumonia adalah dua penyakit yang paling sering diderita oleh orang tua sehingga perlu diberikan vaksinasi influenza bagi mereka. Tetapi respons antibodi tubuh dan response sel T orang tua terhadap vaksin lebih rendah daripada orang muda mempengaruhi efek pemberian vaksin tersebut.

4. KEBUTUHAN NUTRISI PADA USIA LANJUT

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada Lansia

  1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
  2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
  3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
  4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
  5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
  6. Penyerapan makanan di usus menurun.

Masalah Gizi Pada Lansia

1.      Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

2.      Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3.      Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

Perencanaan Makanan Untuk Lansia

1.      Perencanaan makan secara umum, yaitu sebagai berikut

a.       Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

b.      Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.

c.       Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.

d.      Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.

e.       Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Makanlah makanan yang mudah dicerna
  • Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
  • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
  • Makan dalam porsi kecil tetapi sering
  • Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan
  • Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
  • Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
  • Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng

2.      Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna, untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid :

a.       Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti sayuran dan buah-buahan segar, roti dan sereal.

b.      Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk melembutkan feses.

c. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin , karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif.

Nutrisi dan Mineral–Mineral yang dapat Meningkatkan Sistem Imun Orang Tua

Beta-glucan. Adalah sejenis gula kompleks (polisakarida) yang diperoleh dari dinding sel ragi roti, gandum, jamur (maitake). Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa beta glucan dapat mengaktifkan sel darah putih (makrofag dan neutrofil).

Hormon DHEA. Studi menggambarkan hubungan signifikan antara DHEA dengan aktivasi fungsi imun pada kelompok orang tua yang diberikan DHEA level tinggi dan rendah. Juga wanita menopause mengalami peningkatan fungsi imun dalam waktu 3 minggu setelah diberikan DHEA.

Protein: arginin dan glutamin. Lebih efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan penurunan infeksi pasca-pembedahan. Arginin

mempengaruhi fungsi sel T, penyembuhan luka, pertumbuhan tumor, dans ekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon. Glutamin, asam amino semi esensial berfungsi sebagai bahan bakar dalam merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T dan neutrofil.

Lemak. Defisiensi asam linoleat (asam lemak omega 6) menekan respons antibodi, dan kelebihan intake asam linoleat menghilangkan fungsi sel T. Konsumsi tinggi asam lemak omega 3 dapat menurunkan sel T helper, produksi cytokine.

Yoghurt yang mengandung Lactobacillus acidophilus dan probiotik lain. Meningkatkan aktivitas sel darah putih sehingga menurunkan penyakit kanker, infeksi usus dan lambung, dan beberapa reaksi alergi.

Mikronutrien (vitamin dan mineral). Vitamin yang berperan penting dalam memelihara system imun tubuh orang tua adalah vitamin A, C, D, E, B6, dan B12. Mineral yang mempengaruhi kekebalan tubuh adalah Zn, Fe, Cu, asam folat, dan  Se.

Zinc. Menurunkan gejala dan lama penyakit influenza. Secara tidak langsung mempengaruhi fungsi imun melalui peran sebagai kofaktor dalam pembentukan DNA, RNA, dan protein sehingga meningkatkan pembelahan sellular. Defisiensi Zn secara langsung menurunkan produksi limfosit T, respons limfosit T untuk stimulasi/rangsangan, dan produksi IL-2.

Lycopene. Meningkatkan konsentrasi sel Natural Killer (NK)

Asam Folat 9. Meningkatkan sistem imun pada kelompok lansia. Studi di Canada padasekelompok hewan tikus melalui pemberian asam folate dapat meningkatkan distribusi sel T dan respons mitogen (pembelahan sel untuk meningkatkan respons imun). Studi terbaru menunjukkan intake asam folat yang tinggi mungkin meningkatkan memori populasi lansia.

Fe (Iron). Mempengaruhi imunitas humoral dan sellular dan menurunkan produksi IL-1.

Vitamin E 10. Melindungi sel dari degenerasi yangterjadi pada proses penuaan. Studi yang dilakukanoleh Simin Meydani, PhD. di Bostonmenyimpulkan bahwa vitamin E dapat membantu peningkatan respons imun pada penduduk lanjut usia. Vitamin E adalah antioksidan yang melindungi sel dan jaringan dari kerusakan secara bertahap akibat oksidasi yang berlebihan. Akibat penuaan pada respons imun adalah oksidatif secara alamiah sehingga harus dimodulasi oleh vitamin E.

Vitamin C. Meningkatkan level interferon dan aktivitas sel imun pada orang tua, meningkatkan aktivitas limfosit dan makrofag, serta memperbaiki migrasi dan mobilitas leukosit dari serangan infeksi virus, contohnya virus influenzae.

Vitamin A. Berperan penting dalam imunitas nonspesifik melalui proses pematangan sel-sel T dan merangsang fungsi sel T untuk melawan antigen asing, menolong mukosa membran termasuk paruparu dari invasi mikroorganisme, menghasilkan mukus sebagai antibodi tertentu seperti: leukosit, air, epitel, dan garam organik, serta menurunkan mortalitas campak dan diare. Beta karoten (prekursor vitamin A) meningkatkan jumlah monosit, dan mungkin berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit, dan makrofag. Gabungan/kombinasi vitamin A, C, dan E secara signifikan memperbaiki jumlah dan aktivitas sel imun pada orang tua. Hal itu didukung oleh studi yang dilakukan di Perancis terhadap penghuni panti wreda tahun 1997. Mereka yang diberikan suplementasi multivitamin (A, C, dan E) memiliki infeksi pernapasan dan urogenital lebih rendah daripada kelompok yang hanya diberikan plasebo.

Vitamin D. Menghambat respons limfosit Th-1.

Kelompok Vitamin B. Terlibat dengan enzim yang membuat konstituen sistem imun. Pada penderita anemia defisiensi vitamin B12

mengalami penurunan sel darah putih dikaitkan dengan fungsi imun. Setelah diberikan suplementasi vitamin B12, terdapat peningkatan jumlah sel darah putih. Defisiensi vitamin B12 pada orang tua disebabkan oleh menurunnya produksi sel parietal yang penting bagi absorpsi vitamin B12. Pemberian vitamin B6 (koenzim) pada orang tua dapat memperbaiki respons limfosit yang menyerang sistem imun, berperan penting dalam produksi protein dan asam nukleat. Defisiensi vitamin B6 menimbulkan atrofi pada jaringan limfoid sehingga merusak fungsi limfoid dan merusak sintesis asam nukleat, serta menurunnya pembentukan antibodi dan imunitas sellular.

5. STRATEGI PENCEGAHAN KECELAKAAN PADA USIA LANJUT

Strategi pencegahan kecelakaan pada usia lanjut adalah sebagai berikut

1.      Identifikasi Faktor resiko, beberapa strateginya adalah

  • Perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologic, musculoskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh.
  • Keadaan lingkungan yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan
  • Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan
  • Lantai rumah datar, tidak licin, bersihkan benda-benda kecil yang susah dilihat
  • Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu mudah dibuka.
  • WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.
  • Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.

2.      Penilaian Keseimbangan dan gaya berjalan (Gait), beberapa strateginya adalah

  • Harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi
  • Bila goyangan badan saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka perlu bantuan latihan oleh rehabilitasi medic
  • Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah cukup untuk berjalan tanpa bantuan.

3.      Mengatur/Mengatasi factor Situasional, beberapa strateginya adalah

  • Factor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan
  • Factor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita
  • Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik.

Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi

6. PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT PADA USIA LANJUT

Perubahan pada gigi dan mulut  pada usia lanjut adalah

1.      Perubahan pada gigi dan jaringan penyangga

Pada lansia gigi permanen menjadi lebih kering, lebih rapuh, berwarna lebih gelap, permukaan oklusal gigi lebih datar karena pergeseran gigi selama mastikasi. Selain itu pada lansia juga terdapat atrofi pada ginggiva dan procesus alveolaris dan gigi mudah goyang dan tanggal.

2.      Perubahan pada intermaxilary space

Perubahan dentofasial, yaitu dagu masuk ke depan, keriput meluas dari sudut bibir dan sudut maksila. Bisa dicegah dengan restorasi gigi yang baik, pergantian gigi yang hilang dan control gigi tiruan secara periodic.

3.      Perubahan efisiensi alat kunyah

Hilangnya gigi geliga sehingga daya kunyah berkurang, akibatnya pengunyahan lebih lama, sehingga harus diberikan makanan lunak.

4.      Perubahan mukosa mulut dan lidah, yaitu

  • Atrofi pada bibir, mukosa mulut dan lidah, sehingga rentan terjadinya iritasi mekanik, kimia, bakteri
  • Aliran saliva berkurang, mukosa mulut kering dan berkurangnya retensi gigi tiruan
  • Atrofi papil lidah dan kehilangan tonus otot

Kelainan Gigi dan Mulut pada Lansia , adalah

1.      Kelainan Mukosa Mulut

2.      Kelainan dalam Mulut

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s