BANTUAN HIDUP DASAR DAN LANJUTAN – RESUSITASI KARDIO PULMONAL (RKP)/ CARDIO PULMONARY RESCUCITATION (CPR)

Posted: September 15, 2010 in Uncategorized

Oleh

Rhudy Marseno*

*mahasiswa fakultas Kedokteran Universitas Andalas

DEFENISI

RKP adalah suatu usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan fungsi sirkulasi serta mengatasi akibat berhentinya fungsi-fungsi tersebut pada orang-orang yang tidak diharapkan mati pada saat itu.1 RKP merupakan salah satu tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Tujuannya adalah untuk membantu atau mengembalikan oksigenasi, ventilasi, dan sirkulasi yang efektif hingga kembalinya sirkulasi spontan atau hingga intervensi Bantuan Hidup Lanjut (BHJL) dapat mulai dilakukan.3 Resusitasi mencegah agar sel-sel tidak rusak akibat kekurangan oksigen.2

Sekedar informasi, mati ada tiga macam. Yang pertama disebut dengan istilah Mati Klinis, yaitu berhentinya nafas dan jantung. Yang kedua adalah Mati Biologis, yaitu mati klinis yang gagal ditolong. Yang ketiga adalah Mati Sosial, yaitu fungsi pernafasan dan jantung kembali baik tetapi fungsi otak terganggu karena hipoksia yang lebih dari 10 menit.1

Keberhasilan RKP ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan RKP diberikan. Jika Apneu dan Cardiac Arrest terjadi selama 4 menit, angka keberhasilan RKP lebih dari 65 % tanpa gejala sisa (sakit kepala-pusing, amnesia retrograde, dll).1

INDIKASI RKP

Henti Napas

Henti Napas primer ( respiratory arrest ) dapat disebabkan oleh sumbatan jalan nafas dan depresi pernapasan sentral dan perifer. Sumbatan jalan nafas seperti benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke belakang, pipa trakeal terlipat, kanula trakeal tersumbat, kelainan akut glottis dan sekitarnya ( sembab glottis, perdarahan).Depresi pernapasan sentral seperti karena obat-obatan, intoksikasi, paO2 rendah, paCO2 tinggi, setelah henti jantung, tumor otak, tenggelam. Depresi pernapasan perifer seperti karena obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.4

Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas mendapat pertolongan segera (seperti BHD-RKP.pen), maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal.2

Henti Jantung

Henti jantung primer (cardiac arrest) adalah ketidaksanggupan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat balik normal jika dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian dan kerusakan otak menetap jika tindakan tidak adekuat. Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh ventricle fibrillation atau takikardia tanpa denyutan (80-90%) terutama kalau terjadinya di luar rumah sakit, asistol ventricle (+/- 10%) dan electro-mechanical dissociation (+/- 5%).2

Penyebab henti jantung adalah sebagai berikut.4

  1. Penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung iskemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada system konduksi (penyakit Lenegre, Sindrom Adams-Stokes, noda sinus sakit)
  2. Kekurangan oksigen akut, seperti henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan nafas oleh sekresi
  3. Kelebihan dosis obat, seperti digitalis, quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin, isoprenalin.
  4. Gangguan asam-basa/elektrolit, seperti kalium serum yang tinggi atau rendah, magnesium serum rendah, kalsium serum tinggi, asidosis.
  5. Kecelakaan, seperti syok listrik dan tenggelam.
  6. Reflex vagal, seperti peregangan sfingter ani, penekanan/penarikan bola mata.
  7. Anesthesia dan pembedahan
  8. Terapi dan tindakan diagnostic medis
  9. Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik, anafilaksis)

Henti Jantung ditandai dengan denyut nadi besar tak teraba (a.karotis, femoralis dan  radialis pada dewasa dan a.brakhialis pada bayi), disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu ( gasping, apnu), terlihat seperti mati ( death like appearance ), dilatasi pupil tak bereaksi dengan rangsangan cahaya ( 45 detik setelah henti jantung ) dan pasien berada dalam keadaan tidak sadar.2,4

Pengiriman O2 ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb), saturasi Hb terhadap O2 dan fungsi pernapasan. Resusitasi Kardio Pulmonal (RKP) diperlukan  jika O2 ke Otak tidak cukup, sehingga otak tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Iskemia melebihi 3-4 menit pada suhu normal akan menyebabkan korteks serebri rusak menetap, walaupun setelah itu kita dapat membuat jantung berdenyut kembali. Kerusakan otak pasca resusitasi akibat terlambat memulainya.

Kapan memulai RKP3

Siapapun yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan resusitasi dapat melakukan RKP ketika berhadapan dengan kasus henti jantung. Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat RKP tidak perlu dilakukan, yaitu:

Saat kejadian henti jantung yang disaksikan

Jika menyaksikan sendiri terjadinya henti jantung, sudah seharusnya segera memulai RKP, kecuali:

  1. Ada bukti permintaan keluar untuk tidak melakukannya
  2. Usaha RKP akan membahayakan nyawa si penolong
  3. Kemungkinan RKP untuk mengembalikan sirkulasi spontan dengan kualitas hidup yang diterima sangat kecil
  4. Henti jantung yang terjadi setelah usaha terapi yang maksimal untuk proses penyakit terminal.

Saat kejadian henti jantung yang tidak disaksikan

Penolong tidak mengetahui berapa lama henti jantung itu sudah berlangsung. Untuk hal seperti ini tidak perlu mulai melakukan RKP jika mendapati keadaan sebagai berikut:

  1. Ada tanda kematian yang tidak berubah seperti rigor mortis atau lebam mayat
  2. Sudah mulai ada tanda-tanda pembusukan
  3. Penderita mengalami trauma yang tidak bisa diselamatkan, seperti hangus terbakar, dekapitasi atau hemikorporektomi.

Kapan menghentikan RKP

Beberapa alasan kuat bagi penolong untuk menghentikan RKP antara lain:3,4

  1. Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif
  2. Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter)
  3. Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila tak ada dokter sebelumnya).
  4. Korban dinyatakan mati
  5. Penolong sudah memberikan secara penuh, yakni bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut.
  6. Penolong sudah mempertimbangkan apakah pada pasien terdapat hipotermia
  7. Penolong sudah mempertimbangkan apakah pasien terpapar bahan beracun atau mengalami overdosis obat yang akan menghambat system syaraf pusat.
  8. Penolong sudah merekam melalui monitor adanya asistol yang menetap selama 10 menit atau lebih
  9. Interval waktu usaha resusitasi pada henti jantung disaksikan yang tidak dapat mengembalikan sirkulasi spontan adalah 25 sampai 30 menit

10.  Penolong sudah lelah. Ingat jangan menambah korban.

ALGORITMA RKP

Bila anda melihat seorang yang tidak sadar:

  • Pertama-tama anda harus berteriak untuk meminta tolong (cari saksi)
  • Dekati pasien tersebut dan pastikan korban benar-benar tidak sadar (check responsiveness) dengan memanggil-manggil (rangsangan suara.pen), menyentuh lembut atau memberikan rangsangan nyeri (rangsangan nyeri.pen), atau dengan memberikan bau-bauan yang cukup menyengat (rangsangan bau.pen). Perhatian, hati-hati menyentuh pasien yang terkena sengatan listrik, jangan sampai anda menjadi korban kedua.
  • Bila tidak sadar, minta bantuan orang lain agar menelepon ambulans atau rumah sakit terdekat agar segera datang dengan alat bantuan yang lebih lengkap (call for help).
  • Ubah posisi korban, posisikan dengan posisi tidur terlentang di tempat yang datar dan keras sebagai persiapan untuk melakukan RKP. Selanjutnya lakukan RKP dengan langkah-langkah A,B,C,D,E,F,G,H,I.1,4

1. A=Airway Control. Tujuannya untuk membuka dan mengamankan jalan nafas. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

  • Penolong berlutut di dekat kepala sebelah kanan korban.
  • Jika terdapat trauma pada leher sebelah atas sampai kepala dan dicurigai terdapat trauma cervical, lakukan fiksasi pada leher dan kepala korban dengan memasang collar neck atau benda keras apapun sebagai pengganti yang cocok.
  • Jika tonus otot korban hilang, lidah akan menyumbat faring dan epiglottis akan menyumbat laring, hal ini menjadi penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak sadar.2 Oleh sebab itu, lakukan tindakan Angkat Dagu Tengadah Kepala (Head Tilt- Chin Lift Maneuver.red) dengan mengangkat dagu ke atas dan mendorong kepala atau dahi ke belakang. Pada korban dengan trauma muka atau kepala dan dada yang dicurigai mengalami cedera servikal, lakukan teknik penarikan rahang tanpa kepala (jaw thrust Maneuver.red)
  • Lihat apakah ada cairan atau benda asing. Bila terdapat cairan, miringkan kepala penderita agar cairan dapat keluar (memiringkan kepala hanya dilakukan pada penderita yang tidak ada cedera tulang servikal) atau dilakukan penghisapan cairan bila peralatan tersebut tersedia. Bila terdapat benda asing maka segera keluarkan benda tersebut, salah satunya dengan teknik hentakan abdomen (Hemlich maneuver/ abdominal thrust) dan hentakan dada ( chest thrust ). Jika sumbatan jalan napas masih terjadi, dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas ( oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway ). Jika usaha ini masih belum berhasil, perlu dilakukan tracheal intubation, jika tidak bisa dilakukan maka sebagai alternative adalah cricotirotomy atau cricotiroid membrane punction dengan jarum berlumen besar (missal dengan kanula intravena 14 G).4
  • Perhatikan apakah korban bernafas atau tidak dengan melakukan :lihat, dengar, rasakan (look,listen, feel). Dekatkan telinga anda ke mulut korban dan mata melihat ke arah dada. Lihat apakah ada pergerakan dinding dada seperti orang bernafas umumnya (look), dengarkan suara pernafasannya (listen), dan rasakan hembusan nafasnya (feel).Bila tidak bernafas, lakukan langkah B.

2. B=Breathing Support. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

  • Pasanglah alat bantu jalan nafas orofaring (bila ada) pada penderita, kemudian pasang kantung nafas sungkup muka. Bila terjadi di lapangan dan tanpa peralatan, lakukan dengan manipulasi dengan cara mulu ke mulut ( the kiss of life, mouth-to-mouth ), mulut ke hidung ( mouth-to-nose ) pada trauma maksilo-fasial dan saat mulut korban sulit dibuka atau mulut ke stoma trakeostomi. Letakkan tangan kanan penolong di dagudan tangan kiri penolong memencet kedua lubang hidung korban, sehingga lobang hidung tertutup rapat. Dengan demikian keadaan korban menjadi “mulut menganga, dagu terangkat, kepala fleksikan”.
  • Lakukan nafas buatan sebanyak 2 kali secara perlahan, tiap ventilasi waktunya sekitar 2 detik.
  • Lihat apakah udara yang dipompakan dapat masuk dengan mudah, apakah dinding dada tampak naik ketika udara dipompakan, dan apakah ada udara yang keluar saat ekspirasi pasif. Bila udara tidak dapat masuk dengan mudah dan dinding dada tidak bergerak naik, pikirkan kemungkinan adanya obstruksi jalan nafas. Atasi obstruksi segera!
  • Raba denyut arteri carotis paling lama 10 detik. Bila tidak ada denyut, berarti pasien Cardiac Arrest dan lanjutkan langkah C. Bila berdenyut, lanjutkan pemberian nafas buatan dengan frekuensi 12-20 kali/menit.5

3. C=Circulation Treatment. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

Lakukan Pijat Jantung Luar (PJL) sebanyak 7 kali dan diikuti nafas buatan sebanyak 1 kali ( menurut ACLS 2008, PJL sebanyak 30 kali dan nafas buatan sebanyak 2 kali.red). Yang penting PJL dilakukan sebanyak +/- 80 kali/menit dan nafas buatan sebanyak +/- 12 kali/menit. Dengan demikian pasien terhindar dari Hipoxia Lanjut.

Teknik melakukan PJL adalah sebagai berikut.5

1)      Letakkan satu telapak tangan di atas permukaan dinding dada pada 1/3 processus xypoideus (bagian ujung sternum). Tangan yang lain diletakkan di atas tangan pertama.

2)      Dengan jari-jari terkunci, lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban, beri tekanan ventrikal ke bawah dengan kedalaman sekitar 3-5 cm untuk dewasa. Tekanan berasal dari bahu bukan dari tangan, sehingga tangan dan siku korban lurus dan tegak lurus dengan dada korban. Tindakan ini akan memeras jantung yang letaknya dijepit oleh dua bangunan tulang yang keras yaitu tulang dada dan tulang punggung. Pijatan jantung yang baik akan menghasilkan denyut nadi pada arteri carotis dan curah jantung sekitar 10-15% dari normal.2

3)      Pada gerakan penekanan, usahakan penekanan sternum ke bawah selama ½ detik dan lepaskan dengan cepat tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban dan tunggu ½ detik kemudian agar jantung dan pembuluh darah terisi cukup

4)      Kompresi harus teratur, halus dan continue. Dalam kondisi apapun kompresi tidak boleh berhenti lebih dari 5 detik.

5)      Lakukan pemberian nafas sebanyak 2 kali tiap setelah 30 kali pijatan atau penekanan pada dada (jantung) dengan perbandingan 30:2.

6)      Lakukan sebanyak 5 siklus, kemudian cek kembali arteri carotis korban. Jika tetap tidak berdenyut, lanjutkan pemberian PJL.

Di lapangan, saat korban menunjukkan respon yang positif terhadap pemberian Bantuan Hidup Dasar ( langkah A-B-C), maka tindakan RKP dihentikan dan letakkan korban pada posisi mantap. Caranya adalah sebagai berikut.4

1)      Fleksikan tungkai yang terdekat dengan anda

2)      Letakkan tangan yang terdekat dengan anda di bawah bokongknya

3)      Dengan lembut gulingkan pasien pada sisinya

4)      Ekstensikan kepalanya dan pertahankan mukanya lebih rendah.

5)      Letakkan tangan pasien sebelah atas di bawah pipi sebelah bawah untuk mempertahankan ekstensi kepala dan mencegah pasien berguling ke depan. Lengan sebelah bawah yang berada di punggungnya mencegah pasien terguling ke belakang.

4. D=Drugs and Fluid Intravenous Infusion

Pada tahap ini diberikan obat  dan cairan tanpa menunggu hasil EKG.Obat yang diberikan adalah.

1) Adrenalin

Pertama yang diberikan adalah adrenalin 0,5-1,0 mg I.V dosis untuk dewasa, 10 mcg/kg pada anak-anak. Cara pemberian: IV, intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 10/00 diencerkan dengan 9 ml akuades steril, bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin: intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Diulang tiap 5 menit dengan dosis sama sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung.4 Walaupun cardiac arrestnya fibrilasi ventrikel, namun adrenalin tetap diberikan sebagai obat pilihan pertama karena fungsi adrenalin selain sebagai notropic dan chronotropic, adrenalin juga meningkatkan sensitivity otot jantung sehingga ventricle fibrillation mudah kembali ke irama sinus dengan defibrillator listrik pada jantung yang telah diberikan adrenalin.1

2) Natrium Bikarbonat

Dosis mula 1 mEq/kg (bila henti jantung lebih dari 2 menit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. Cara pemberian hanya IV.4

Dipasang infuse intravena sesuai indikasi.

5. E=EKG

6. F=Fibrilation Treatment

Elektroda dipasang di sebelah kiri putting susu kiri dan di sebelah kanan sternum atas. Defibrilasi luar: arus searah: 100-360 Wsec (Joule) (dewasa); 100-200 Wsec (anak); 50-100 Wsec (bayi).

7. G=Gough (cari sebab Cardiac Arrest)

    Pada tahap ini, menentukan dan member terapi penyebab kematian dan menilai sampai sejauh mana pasien dapat diselamatkan.

    8. I=Intensive Care Unit

    Post Cardiac Arrest, korban harus dirawat di ICU

    TEKNIK PADA BAYI DAN ANAK-ANAK

    Prinsip Bantuan Hidup Dasar pada bayi dan anak adalah sama dengan pada orang dewasa. Akan tetapi karena ketidaksamaan ukuran, diperlukan modifikasi teknik yang disebutkan di atas yaitu sebagai berikut.4

    1. Ekstensi kepala yang berlebihan dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas pada bayi dan anak kecil. Kepala hendaknya dijaga dalam posisi netral selama diusahakan membuka jalan napas pada kelompok ini.
    2. Pada bayi dan anak kecil, ventilasi mulut-ke-mulut dan hidung lebih sesuai daripada ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung. Pemberian ventilasi harus lebih kecil volumnya dan frekuensi ventilasi harus ditingkatkan menjadi 1 ventilasi tiap 3 detik untuk bayi dan 1 ventilasi tiap 4 detik untuk anak-anak.
    3. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi terlentang, kepala terletak dibawah melintang pada paha penolong. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban telungkup melintang di atas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan, dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak terlentang di atas lantai.
    4. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalam rongga toraks pada pasien-pasien muda, kompresi dada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pada 1 jari di bawah titik potong garis putting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak. Penekanan sternum 1,5-2,5 cm efektif untuk bayi, tetapi pada anak diperlukan penekanan 2,5-4 cm. pada anak yang lebih besar hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada luar.
    5. Selama henti jantung, pemberian komprsi dada luar harus minimal 100 kali permenit pada bayi dan 80 kali permenit pada anak-anak. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi selalu 5:1.

    Usaha tindakan RKP pada langkah-langkah ABC (Bantuan Hidup Dasar) yang dilakukan pada korban yang mengalami henti jantung dapat memberi beberapa kemungkinan hasil, yaitu sebagai berikut.4

    1. Korban menjadi sadar kembali
    2. Korban dinyatakan mati. Ini bisa disebabkan karena terlambatnya pemberian tindakan RKP atau salah dalam pelaksanaannya.
    3. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belum timbul denyut jantung spontan. Dalam hal ini perlu diberikan pertolongan lebih lanjut.
    4. Denyut jantung spontan timbul, tetapi korban belum pulih kesadarannya. Ventilasi spontan bisa ada bisa tidak.

    REFERENSI

    1. Zaidulfar. (2010) Cardio Pulmonary Rescucitation. Proceedings of skill lab training of  medical student of Block 16th of Andalas University, Indonesia
    2. Latief, Said A.dkk. (2002) Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
    3. Karo, Santoso.dkk. (2009) Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut ACLS (Advanced Cardiac Life Support) Indonesia. Jakarta:PERKI-2008
    4. Muhiman, Muhardi.dkk. (1989) Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
    5. HET (2010) Materi Diklat Medis, KAT serta Pengabdian Masyarakat Angkatan XXI. Padang: Hippocrates Emergency Team FK Unand 2010
    About these ads

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s