SYOK

Posted: Oktober 30, 2012 in Uncategorized

I.     DEFENISI

Syok adalah gangguan sistem sirkulasi yang menyebabkan tidak adekuatnya perfusi dan oksigenasi jaringan atau suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan dengan akibat gangguan mekanisme homeostasis

II.     ETIOLOGI

A. Syok Kardiogenik

1). Disebabkan oleh Disritmia

  1. Bradidisritmia
  2. Takidisritmia

2). Disebabkan oleh factor mekanis jantung

1. Lesi regurgitasi

  • Insufisiensi aorta atau mitralis akut
  • Rupture septum interventrikularis
  • Aneurisma ventrikel kiri masif

2. Lesi obstruktif

  • Obstruksi saluran keluar ventrikel kiri, seperti stenosis katup aorta congenital atau di dapat, dan kardiomiopati hipertrofi obstruktif
  • Obstruksi saluran masuk ventrikel kiri, seperti stenosis mitralis, miksoma atrium kiri, thrombus atrium.

3) . Miopati

  • Gangguan  kontraktilitas ventrikel kiri, seperti pada infark miokardium akut atau kardiomiopati kongestif
  • Gangguan kontraktilitas ventrikel kanan yang disebabkan oleh infark ventrikel kanan
  • Gangguan relaksasi atau kelenturan ventrikel kiri, seperti pada kardiomiopati restriktif atau hipertrofik

B. Syok Obstruktif*

  1. Tamponade pericardium
  2. Koarktasio aorta
  3. Emboli paru
  4. Hipertensi pulmonalis primer

* Disebabkan oleh factor-faktor ekstrinsik terhadap katup-katup jantung dan miokardium

C. Syok Oligemik

  1. Perdarahan
  2. Kekurangan cairan akibat muntah, diare, dehidrasi, diabetes mellitus, diabetes insipidus, kerusakan korteks adrenal, peritonitis, pancreatitis, luka bakar, adenoma vilosa, ascites, atau feokromositoma

D. Syok Distributif

1. Septicemia

  • Endotoksik
  • Akibat infeksi spesifik, seperti demam dengue

2. Metabolic atau toksik

  • Gagal ginjal
  • Gagal hati
  • Asidosis atau alkalosis berat
  • Overdosis obat
  • Intoksikasi logam berat
  • Sindrom syok toksik (kemungkinan disebabkan oleh eksotoksin stafilokok)
  • Hipertermia maligna

3. Endokrinologik

  • Diabetes mellitus tak terkontrol dengan koma ketoasidosis atau hiperosmolar
  • Kerusakan korteks adrenal
  • Hipotiroidisme
  • Hiperparatiroidisme atau hipoparatiroidisme
  • Diabetes insipidus
  • Hipoglikemia akibat kelebihan insulin eksogen atau akibat tumor sel beta

4. Mikrosirkulasi, akibat berubahnya viskositas darah

  • Polisitemia vera
  • Sindrom hiperviskositas, termasuk myeloma multiple, makroglobulinemia, dan krioglobulinemia
  • Anemia sel sabit
  • Emboli lemak

5. Neurogenik

  • Seebral
  • Spinal
  • otonom

6. Anafilaktik

III.     KLASIFIKASI

Berdasarkan mekanismenya, syok diklasifikasikan sebagai berikut

  1. Syok kardiogenik
  2. Syok obtruktif
  3. Syok oligemik
  4. Syok distributive

Berdasarkan penyebabnya, syok diklasifikasikan sebagai berikut

  1. Syok hipovolemik, yaitu kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat.
  2. Syok kardiogenik
  3. Syok neurogenik
  4. Syok septic
  5. Syok anafilatik

IV.     MANIFESTASI KLINIK

Secara umum, manifestasi klinik syok adalah sebagai berikut

1. System Kardiovaskuler

Manifestasi klinik berupa:

  • Gangguan sirkulasi perifer berupa pucat dan ekstremitas dingin. Kurangnya pengisian vena perifer lebih bermakna dibandingkan penurunan tekanan darah.
  • Nadi cepat dan halus
  • Tekanan darah rendah
  • Vena perifer kolaps
  • CVP rendah

2. System Respirasi

Manifestasi klinik berupa pernapasan cepat dan dangkal.

3. System Saraf Pusat

Manifestasi klinik berupa perubahan mental pasien

4. Sistem Saluran Cerna

Manifestasi klinik berupa mual dan muntah.

5. System Saluran Kencing

Manifestasi klinik berupa berkurangnya produksi urin. Normal rata-rata produksi urin pasien dewasa adalah 60 ml/jam ( 1/5-1 ml/kg/jam)

V.     PATOFISIOLOGI

Berbagai mekanisme dapat menyebabkan terjadinya syok. Curah jantung yang berkurang karena gagal jantung atau karena perdarahan, vasodilatasi karena berbagai sebab seperti rangsangan simpatis parasimpatis, reaksi antigen dan antibody dapat menyebabkan pengisian pembuluh darah tidak maksimal, sehingga biasanya ditemukan manifestasi klinik berupa vena perifer kolaps dan CVP yang rendah.. Hal ini menyebabkan pasokan darah tidak mampu memenuhi kebutuhan darah.

Keadaan ini dikompensasi oleh tubuh dengan berbagai cara. Diantaranya dengan vasokonstriksi pembuluh darah perifer sehingga ekstremitas tampak pucat dan dingin, jantung berusaha berkontraksi lebih cepat untuk menghasilkan curah jantung lebih banyak sehingga nadi menjadi cepat walaupun halus. Kondisi ini juga menyebabkan kebutuhan akan oksigen semakin meningkat, sehingga pasien bernafas denga cepat dan dangkal.

Selain itu, kompensasi tubuh juga dapat berupa retensi cairan di ginjal, sehingga produksi urin pasien menjadi berkurang dari normal.

VI.     PENATALAKSANAAN

Sistematika penatalaksanaan syok Hipovolemik

Sistematika penatalaksanaan syok Kardiogenik

Sistematika penatalaksanaan syok Neurogenik

Sistematika penatalaksanaan syok Anafilatik

Sistematika penatalaksanaan syok Septik

VII.     DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan menifestasi anamnesis, pemeriksaan fisik dan dari manifestasi klinik yang muncul.

VIII.     PROGNOSIS

Pasien yang menderita syok akan memperoleh prognosis yang cukup baik jika penanganan dini dapat diberikan dalam waktu cepat seperti resusitasi cairan dan penanganan factor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA

Hippocrates Emergency Team (HET): Prosedur Tetap, 2010

PERKI : Pedoman diagnosis & Tatalaksana Gagal Jantung, Jakarta, 2009, MED

Price, Sylvia A, Lorraine M Wilson: Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Jakarta, 2005, EGC


Oleh

Rhudy Marseno*

*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

1. LATAR BELAKANG PATIENT SAFETY

Hampir setiap tindakan medic menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis obat, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors). Menurut Institute of Medicine (1999), medical error didefinisikan sebagai: The failure of a planned action to be completed as intended (i.e., error of execusion) or the use of a wrong plan to achieve an aim (i.e., error of planning). Artinya kesalahan medis didefinisikan sebagai: suatu Kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang diharapkan (yaitu., kesalahan tindakan) atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu., kesalahan perencanaan). Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD).

Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) merupakan suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena keberuntungan (misalnya,pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), dan peringanan (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya).

Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan bukan karena “underlying disease” atau kondisi pasien.

Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau observasi; tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan yang tidak layak; tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta monitor dan follow up yang tidak adekuat; atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan berkomunikasi, kegagalan alat atau system yang lain.

Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua.

Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of Trustees mengidentifikasikan bahwa keselamatan dan keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas strategik. Mereka juga menetapkan capaian-capaian peningkatan yang terukur untuk medication safety sebagai target utamanya. Tahun 2000, Institute of Medicine, Amerika Serikat dalam “TO ERR IS HUMAN, Building a Safer Health System” melaporkan bahwa dalam pelayanan pasien rawat inap di rumah sakit ada sekitar 3-16% Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/Adverse Event). Menindaklanjuti penemuan ini, tahun 2004, WHO mencanangkan World Alliance for Patient Safety, program bersama dengan berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit.

Di Indonesia, telah dikeluarkan pula Kepmen nomor 496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit, yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia(PERSI) yang berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien di rumah sakit.

Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka dikembangkan system Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada.

2. PENGERTIAN PATIENT SAFETY

Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman.

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

3. TUJUAN PATIENT SAFETY

Tujuan “Patient safety” adalah

1.      Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS

2.      Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat;

3.      Menurunnya KTD di RS

4.      Terlaksananya program-program pencegahan shg tidak terjadi pengulangan KTD.

4. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PATIENT SAFETY

Pelaksanaan “Patient safety” meliputi

1. Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre for Patient  Safety, 2 May 2007), yaitu:

1)      Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication names)

2)      Pastikan identifikasi pasien

3)      Komunikasi secara benar saat serah terima pasien

4)      Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar

5)      Kendalikan cairan elektrolit pekat

6)      Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan

7)      Hindari salah kateter dan salah sambung slang

8)      Gunakan alat injeksi sekali pakai

9)      Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.

2. Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada “Hospital Patient Safety Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health Organizations, Illinois, USA, tahun 2002),yaitu:

1.      Hak pasien

Standarnya adalah

Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).

Kriterianya adalah

1)      Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan

2)      Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan

3)      Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar   kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD

2.      Mendidik pasien dan keluarga

Standarnya adalah

RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

Kriterianya adalah:

Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat:

1)      Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur

2)      Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab

3)      Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti

4)      Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan

5)      Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS

6)      Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa

7)      Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati

3.      Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

Standarnya adalah

RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.

Kriterianya adalah:

1)      koordinasi pelayanan secara menyeluruh

2)      koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya

3)      koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi

4)      komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

4.      Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien

         Standarnya adalah

RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada, memonitor & mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, & melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP.

Kriterianya adalah

1)      Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, sesuai dengan  ”Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.

2)      Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja

3)      Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif

4)      Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis

5.      Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

Standarnya adalah

1)      Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan “7 Langkah Menuju KP RS ”.

2)      Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP & program mengurangi KTD.

3)      Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP

4)      Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.

5)      Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS & KP.

         Kriterianya adalah

1)      Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

2)      Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden,

3)      Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi

4)      Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.

5)      Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden,

6)      Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden

7)      Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan

8)      Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan

9)      Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien

6.      Mendidik staf tentang keselamatan pasien

Standarnya adalah

1)      RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas.

2)      RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

Kriterianya adalah

1)      memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien

2)      mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

3)      menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

7.      Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

           Standarnya adalah

1)      RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal.

2)      Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat.

           Kriterianya adalah

1)      disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.

2)      Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada

 

3. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien RS (berdasarkan KKP-RS No.001-VIII-2005) sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit

1.      Bangun kesadaran akan nilai keselamatan Pasien, “ciptakan kepemimpinan & budaya yang terbuka dan adil”

Bagi Rumah sakit:

  • Kebijakan: tindakan staf segera setelah insiden, langkah kumpul fakta,   dukungan kepada staf, pasien, keluarga
  • Kebijakan: peran & akuntabilitas individual pada insiden
  • Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari insiden
  • Lakukan asesmen dg menggunakan survei penilaian KP

Bagi Tim:

  • Anggota mampu berbicara, peduli & berani lapor bila ada insiden
  • Laporan terbuka & terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yg tepat

2.      Pimpin dan dukung staf anda, “bangunlah komitmen &focus yang kuat & jelas tentang KP di RS anda”

Bagi Rumah Sakit:

  • Ada anggota Direksi yg bertanggung jawab atas KP
  • Di bagian-2 ada orang yg dpt menjadi “Penggerak” (champion) KP
  • Prioritaskan KP dlm agenda rapat Direksi/Manajemen
  • Masukkan KP dlm semua program latihan staf

Bagi Tim:

  • Ada “penggerak” dlm tim utk memimpin Gerakan KP
  • Jelaskan relevansi & pentingnya, serta manfaat gerakan KP
  • Tumbuhkan sikap ksatria yg menghargai pelaporan insiden

3.      Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko, “kembangkan sistem & proses pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi & asesmen hal yg potensial brmasalah”

Bagi Rumah Sakit:

  • Struktur & proses mjmn risiko klinis & non klinis, mencakup KP
  • Kembangkan indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko
  • Gunakan informasi dr sistem pelaporan insiden & asesmen risiko & tingkatkan kepedulian thdp pasien

Bagi Tim:

  • Diskusi isu KP dlm forum2, utk umpan balik kpd mjmn terkait
  • Penilaian risiko pd individu pasien
  • Proses asesmen risiko teratur, tentukan akseptabilitas tiap risiko, & langkah memperkecil risiko tsb

4.      Kembangkan sistem pelaporan, “pastikan staf Anda agar dg mudah dpt melaporkan kejadian/insiden serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS”

Bagi Rumah sakit:

  • Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden, ke dlm maupun ke luar yg hrs dilaporkan ke KKPRS – PERSI

Bagi Tim:

  • Dorong anggota utk melaporkan setiap insiden & insiden yg telah dicegah tetapi tetap terjadi juga, sbg bahan pelajaran yg penting

5.      Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien, “kembangkan cara-cara komunikasi yg terbuka         dg pasien”

Bagi Rumah Sakit

  • Kebijakan : komunikasi terbuka ttg insiden dg pasien & keluarga
  • Pasien & keluarga mendpt informasi bila terjadi insiden
  • Dukungan,pelatihan & dorongan semangat kpd staf agar selalu terbuka kpd pasien & kel. (dlm seluruh proses asuhan pasien

Bagi Tim:

  • Hargai & dukung keterlibatan pasien & kel. bila tlh terjadi insiden
  • Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien & kel. bila terjadi insiden
  • Segera stlh kejadian, tunjukkan empati kpd pasien & kel.

6.      Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan pasien, “dorong staf anda utk melakukan analisis akar masalah utk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul”

Bagi Rumah Sakit:

  • Staf terlatih mengkaji insiden scr tepat, mengidentifikasi sebab
  • Kebijakan: kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis/RCA) atau Failure Modes & Effects Analysis (FMEA) atau metoda analisis lain, mencakup semua insiden & minimum 1 x per tahun utk proses risiko tinggi

Bagi Tim:

  • Diskusikan dlm tim pengalaman dari hasil analisis insiden
  • Identifikasi bgn lain yg mungkin terkena dampak & bagi pengalaman tersebut

7.      Cegah cedera melalui implementasi system Keselamatan pasien, “Gunakan informasi yg ada ttg kejadian/masalah utk melakukan perubahan pd sistem pelayanan”

Bagi Rumah Sakit:

  • Tentukan solusi dg informasi dr sistem pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden, audit serta analisis
  • Solusi mencakup penjabaran ulang sistem, penyesuaian pelatihan staf & kegiatan klinis, penggunaan instrumen yg menjamin KP
  • Asesmen risiko utk setiap perubahan
  • Sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh KKPRS-PERSI
  • Umpan balik kpd staf ttg setiap tindakan yg diambil atas insiden

Bagi Tim:

  • Kembangkan asuhan pasien menjadi lebih baik & lebih aman
  • Telaah perubahan yg dibuat tim & pastikan pelaksanaannya
  • Umpan balik atas setiap tindak lanjut ttg insiden yg dilaporkan

 

LANGKAH LANGKAH KEGIATAN PELAKSANAAN PATIENT SAFETY ADALAH

a. Di Rumah Sakit

1.      Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dengan susunan organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter, Anggota: dokter, dokter gigi, perawat, tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.

2.      Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal tentang insiden

3.      Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) secara rahasia

4.      Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.

5.      Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis berdasarkan hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan.

b. Di Provinsi/Kabupaten/Kota

1.      Melakukan advokasi program keselamatan pasien ke rumah sakit-rumah sakit di wilayahnya

2.      Melakukan advokasi ke pemerintah daerah agar tersedianya dukungan anggaran terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.

3.      Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit

c. Di Pusat

1.      Membentuk komite keselamatan pasien Rumah Sakit dibawah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia

2.      Menyusun panduan nasional tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit

3.      Melakukan sosialisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota, PERSI Daerah dan rumah sakit pendidikan dengan jejaring pendidikan.

4.      Mengembangkan laboratorium uji coba program keselamatanpasien.

 

Selain itu, menurut Hasting G, 2006, ada delapan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan budaya Patient safety ini

1. Put the focus back on safety

Setiap staf yang bekerja di RS pasti ingin memberikan yang terbaik dan teraman untuk pasien. Tetapi supaya keselamatan pasien ini bisa dikembangkan dan semua staf merasa mendapatkan dukungan, patient safety ini harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya. Empat CEO RS yang terlibat dalam safer patient initiatives di Inggris mengatakan bahwa tanggung jawab untuk keselamatan pasien tidak bisa didelegasikan dan mereka memegang peran kunci dalam membangun dan mempertahankan fokus patient safety di dalam RS.

2. Think small and make the right thing easy to do

Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien mungkin membutuhkan langkah-langkah yang agak kompleks. Tetapi dengan memecah kompleksitas ini dan membuat langkah-langkah yang lebih mudah mungkin akan memberikan peningkatan yang lebih nyata.

3. Encourage open reporting

Belajar dari pengalaman, meskipun itu sesuatu yang salah adalah pengalaman yang berharga. Koordinator patient safety dan manajer RS harus membuat budaya yang mendorong pelaporan. Mencatat tindakan-tindakan yang membahayakan pasien sama pentingnya dengan mencatat tindakan-tindakan yang menyelamatkan pasien. Diskusi terbuka mengenai insiden-insiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staf.

4. Make data capture a priority

Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan kualitas dari waktu ke waktu. Misalnya saja data mortalitas. Dengan perubahan data mortalitas dari tahun ke tahun, klinisi dan manajer bisa melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety.

5. Use systems-wide approaches

Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jawab individual. Pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem pendukung yang adekuat. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. Tetapi jika pendekatan patient safety tidak diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku di RS, maka peningkatan yang terjadi hanya akan bersifat sementara.

6. Build implementation knowledge

Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan metodologi, sistem berfikir, dan implementasi program. Pemimpin sebagai pengarah jalannya program disini memegang peranan kunci. Di Inggris, pengembangan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran dan keperawatan, sehingga diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah menjadi bagian dalam budaya kerja.

7. Involve patients in safety efforts

Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat memberikan pengaruh yang positif. Perannya saat ini mungkin masih kecil, tetapi akan terus berkembang. Dimasukkannya perwakilan masyarakat umum dalam komite keselamatan pasien adalah salah satu bentuk kontribusi aktif dari masyarakat (pasien). Secara sederhana pasien bisa diarahkan untuk menjawab ketiga pertanyaan berikut: apa masalahnya? Apa yang bisa kubantu? Apa yang tidak boleh kukerjakan?

8. Develop top-class patient safety leaders

Prioritisasi keselamatan pasien, pembangunan sistem untuk pengumpulan data-data berkualitas tinggi, mendorong budaya tidak saling menyalahkan, memotivasi staf, dan melibatkan pasien dalam lingkungan kerja bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai dalam semalam. Diperlukan kepemimpinan yang kuat, tim yang kompak, serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety. Seringkali RS harus bekerja dengan konsultan leadership untuk mengembangkan kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. Dengan kepemimpinan yang baik, masing-masing anggota tim dengan berbagai peran yang berbeda bisa saling melengkapi dengan anggota tim lainnya melalui kolaborasi yang erat.

 

5. ASPEK HUKUM TERHADAP PATIENT SAFETY

Aspek hukum terhadap “patient safety” atau keselamatan pasien adalah sebagai berikut

UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit

1.      Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum

a.       Pasal 53 (3) UU No.36/2009

“Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien.”

b.      Pasal 32n UU No.44/2009

“Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.

c.       Pasal 58 UU No.36/2009

1)      “Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam Pelkes yang diterimanya.”

2)      “…..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.”

 

2.      Tanggung jawab Hukum Rumah sakit

a.       Pasal 29b UU No.44/2009

”Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.”

b.      Pasal 46 UU No.44/2009

“Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.”

c.       Pasal 45 (2) UU No.44/2009

“Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia.”

 

3.      Bukan tanggung jawab Rumah Sakit

Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit

“Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensif. “

 

4.      Hak Pasien

a.       Pasal 32d UU No.44/2009

“Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional”

b.      Pasal 32e UU No.44/2009

“Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi”

c.       Pasal 32j UU No.44/2009

“Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan”

d.      Pasal 32q UU No.44/2009

“Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana”

 

5.      Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien

Pasal 43 UU No.44/2009

1)      RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien

2)      Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.

3)      RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri

4)      Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.

 

Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System tersebut meliputi:

a.       Assessment risiko

b.      Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien

c.       Pelaporan dan analisis insiden

d.      Kemampuan belajar dari insiden

e.       Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko

 

6. MANAJEMEN PATIENT SAFETY

Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan system Pencacatan dan Pelaporan serta Monitoring san Evaluasi

 

7. SISTEM PENCACATAN DAN PELAPORAN PADA PATIENT SAFETY

a. Di Rumah Sakit

1.      Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.

2.      Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.

3.      Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja

4.      Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit.

5.      Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia.

 

b. Di Propinsi

Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah menerima produk-produk dari Komite Keselamatan Rumah Sakit

 

c. Di Pusat

1.      Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) merekapitulasi laporan dari rumah sakit untuk menjaga kerahasiaannya

2.      Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis yang telah dilakukan oleh rumah sakit

3.      Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis laporan insiden  bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai laboratorium uji coba keselamatan pasien rumah sakit

4.      Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah, rumah sakit terkait dan rumah sakit lainnya.

 

8. MONITORING DAN EVALUASI

a. Di Rumah sakit

Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja

b. Di propinsi

Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit di wilayah kerjanya

c. Di Pusat

1.      Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Keselamatan Pasien Rumah Sakit di rumah sakit-rumah sakit

2.      Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahan satu kali.

 

REFERENSI

1.      Komalawati, Veronica. (2010) Community&Patient Safety Dalam Perspektif Hukum Kesehatan.

2.      Lestari, Trisasi. Knteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan Langkah Untuk Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin IHQN Vol II/Nomor.04/2006 Hal.1-3

3.       Pabuti, Aumas. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP) Rumah Sakit. Proceedings of expert lecture of  medical student of Block 21st of Andalas University, Indonesia

4.       Panduang Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). 2005

5.      Tim keselamatan Pasien RS RSUD Panembahan Senopati. Patient Safety.

6.      Yahya, Adib A. (2006) Konsep dan Program “Patient Safety”. Proceedings of  National Convention VI of The Hospital Quality Hotel Permata Bidakara, Bandung 14-15 November 2006.

7.      Yahya, Adib A. (2007) Fraud & Patient Safety. Proceedings of  PAMJAKI meeting “Kecurangan (Fraud) dalam Jaminan/Asuransi Kesehatan” Hotel Bumi Karsa, Jakarta 13 December 2007.


OKLUSI ARTERI SENTRALIS RETINA (CRAO)

Defenisi

Sumbatan pada arteri sentralis retina.

Epidemiologi

Sering terjadi pada usia tua atau usia pertengahan. Tempat tersumbatnya arteri sentralis retina biasanya di daerah lamina kribrosa.

Etiologi dan Faktor Resiko

Penyumbataan arteri sentralis retina dapat disebabkan oleh radang arteri, thrombus dan emboli pada arteri, spsame pembuluh darah, akibat terlambatnya pengaliran darah, giant cell arthritis, penyakit kolagen, kelainan hiperkoagulasi, sifilis dan trauma.

Patofisiologi

Emboli adalah penyebab tersering dari CRAO. Emboli dapat berasal dari perkapuran yang berasal dari penyakit emboli jantung.

Penyebab spasme pembuluh darah antara lain pada migraine, keracunan alcohol, tembakau, kina atau timah hitam. Perlambatan pembuluh datah retina terjadi pada peninggian TIO, stenosis aorta atau arteri karotis.

Secara oftalmoskopis, retina superficial mengalami pengeruhan kecuali di foveola yang memperlihatkan bercak merah cherry(cherry red spot). Cherry red spot adalah pigmen koroid dan RPE yang dilihat melalui daerah foveola

Manifestasi Klinik

Keluhasn pasien dengan CRAO dimulai dengan penglihatan kabur yang hilang timbul tanpa disertai rasa sakit dan kemudian gelap menetap. Penurunan visus mendadak biasanya disebabkan oleh emboli.

Reaksi pupil menjadi lemah dengan pupil anisokor. Ketajaman penglihatan berkisar antara hitung jari dan persepsi cahaya.

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan fundoskopi ditemukan :

  • Fundus pucat
  • Arteri halus sampai hilang
  • Cherry red spot
  • Cattle track appearance

Tatalaksana

Terapi yang diberikan:

  • Masase bola mata
  • Parasentese
  • Vasodilator
  • O2 hiperbarik

Pengobatan dini dapat dengan menurunkan TIO, selain dengan masase bola mata bisa juga dengan asetazolamid atau parasentese bilik mata depan.

Prognosis

Penyulit yang dapat timbul adalah glaukoma neovaskular.

Rujukan

Timbul penyulit, rujuk ke spesialis mata.

OKLUSI VENA SENTRAL RETINA ( CRVO )

Defenisi

Penyumbatan vena retina yang mengakibatkan gangguan perdarahan didalam bola mata

Epidemiologi

Kelainan ini biasanya mengenai usia pertengahan. Biasanya penyumbatan terletak di mana saja pada retina, akan tetapi lebih sering terletak di depan lamina kribrosa.

Etiologi dan Faktor Resiko

Penyumbatan vena sentralis retina mudah terjadi pada pasien dengan glaukoma, diabetes mellitus, hipertensi, kelainan darah, arteriosklerosis, papil edema, retinopati radiasi, dan penyakit pembluh darah. Thrombosis dapat terjadi akibat endofeblitis.

Patofisiologi

Sebab-sebab terjadinya CRVO adalah :

  • Akibat kompresi dari luar terhadap vena tersebut seperti yang terdapat pada proses arteriosklerosis atau jaringan pada lamina kribrosa.
  • Akibat penyakit pada pembuluh darah vena sendiri sepeerti fibrosklerosis atauy endofeblitis.
  • Akibat hambatan aliran darah dalam pembuluh vena tersebut seperti yang terdapat pada kelainan viskositas darah, diskrasia darah atau spasme arteri retina yan g berhubungan.

Tajam penglihatan sentral terganggu bila perdarahan mengenai daerah macula.

Manifestasi Klinik

Penderita biasanya mengeluh adanya penurunan tajam penglihatan sentral ataupun perifer mendadak yang dapat memburuk sampai hanya tertinggal persepsi cahaya. Tidak terdapat rasa sakit dan biasanya mengenai satu mata.

Pemeriksaan Penunjang

Gambaran klinis bervariasi dari perdarahan retina kecil-kecil teersebar dan bercak cotton wool sampai gambaran perdarahan hebat dengan perdarahn rerina superficial dan dalam. Pada funduskopi ditemukan :

  • Papil udem
  • Tortositas vena meningkat, vena terlihat melebar dan berkelok-kelok
  • Flame shape appearance

Selain itu, dapat dilakukan pengukuran lemak serum, protein plasma, glukosa plasma, dan penilaian kekentalan darah dengan perkiraan hb, hematokrit, dan fibrinogen. Pada pasien usia muda, kadar protein C, protein S, dan antitrombin III harus diperiksa untuk menyingkirkan kelainan sistem trombolitik. Jika terdapat hipertensi, dianjurkan pemeriksaan uji fungsi ginjal sederhana, termasuk ureum dan elektrolit, pengukuran klirens kreatinin, pemeriksaan urin secara mikroskopik, dan USG ginjal.

Tatalaksana

  • Control dan observasi penyakit dalam
  • Fotokoagulasi, terutama pada kasus penurunan tajam penglihatan akibat penyumbatan
  • Kalau timbul glaukoma, lebih sulit diatasi. Bisa dilakukan siklokro terapi, alcohol retrobulber untuk rasa sakit, dan enukleasi
  • Pembedahan bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan

Prognosis

Prognosis umumnya jelek, terutama untuk visus. Angiografi floresens menunjukkan dua jenis respon; tipe noniskemik, dengan dilatasi dan edema pembuluh darah; dan tipe iskemik, dengan daerah-daerah nonperfusi kapiler yang luas atau bukti adanya neovaskularisasi segmen anterior atau retina.

Jika udem dan perdarahan retina dapat diserap kembali oleh tubuh, maka dapat memperbaiki visus.

GLAUKOMA

Posted: Januari 5, 2011 in Uncategorized

Glaukoma adalah penyebab kebutaan yang irreversible di seluruh dunia, terutama di Negara berkembang dan industry. Berbeda dengan katarak, visus dapat dikembalikan dengan operasi pada pasien katarak.

Glaukoma dalah suatu kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intra ocular (TIO), yang menimbulkan kerusakan saraf optikus, sehingga terjadi kelainan lapangan pandang dan gangguan visus yang berakhir pada kebutaan.

TIO normal 10-22mmHg, variasi 1hari 2-8mmHg, saat tertinggi pada pagi hari dan terendah pada sore hari. TIO ditentukan oleh banyaknya produksi aqueous humor oleh corpus siliar dan hambatan-hambatan pada aqueous tersebut di dalam bola mata.

Klasifikasi glaukoma menurut Vaughan :

1.      Glaukoma primer

  • Glaukoma sudut terbuka (glaukoma simplek)
  • Glaukoma sudut tertutup

2.      Glaukoma sekunder

  • Karena perubahan lensa
  • Kelainan uvea (uveitis anterior)
  • Karena trauma mata
  • Pemakaian kortikosteroid local dan lainnya
  • Rubeosis iridis, sering terdapat pada DM dan oklusi vena centralis retina
  • Akibat operasi, misalnya operasi katarak dengan prolaps retina

3.      Glaukoma congenital

  • Primer atau infantile
  • Menyertai kelainan congenital lainnya, seperti aniridia, marfan sindrom, mikro kornea/makro kornea.

4.      Glaukoma absolut, adalah fase akhir dari glaukoma tidak terkontrol (visus=0, bola mata keras dan sering sakit kepala).

 

GLAUKOMA PRIMER

1. Glaukoma Sudut Terbuka (Glaukoma Simplek)

Definisi

Glaukoma yang penyebabnya tidak diketahui yang ditandai dengan sudut bilik mata terbuka.

Epidemiologi

Merupakan kasus glaukoma terbanyak(90%). Sekitar 0,4-0,7% orang berusia lebih dari 40tahun dan 2-3% orang berusia lebih dari 70tahun diperkirakan mengidap glaukoma simpleks. Biasanya bersifat bilateral, perjalanan penyakitnya perlahan tapi progresif.

Penyakit ini tiga kali lebih sering dan lebih agresif pada orang kulit hitam. Diduga glaukoma simpleks diturunkan secara dominan atau resesif pada kira-kira 50% penderita, secara genetic penderitanya adalah homozigot.

Etiologi dan Faktor Risiko

Pada glaukoma simpleks, terdapat gangguan aliran aqueous humor pada trabekulum, kanal schlemm atau sistem vena.

Terdapat faktor risiko pada seseorang untuk mendapatkan glaukoma seperti DM, hipertensi, orang kulit hitam dan myopia.

Patofisiologi

Peninggian TIO disebabkan karena terganggunya aliran aqueous humor. Hal ini terjadi karena terdapat perubahan degenerasi pada jala trabekula, kanal Schlemm, dan pembuluh darah kolektif yang berfungsi mengalirkan cairan aqueous. Beberapa ahli juga berpendapat terdapat suatu gangguan degenerasi primer dari nervus optikus yang disebabkan insufisiensi vaskuler. Pandangan ini didukung hasil observasi bahwa kadang-kadang kehilangan fungsi terus berlanjut walaupun TIO telah normal dengan pemberian obat-obat anti glaukoma ataupun dengan operasi.

Jika TIO tetap tinggi, akan terjadi kerusakan-kerusakan hebat pada mata, yaitu:

  • Degenerasi nervus optikus berupa ekskavasi yang dikenal sebagai cupping
  • Degenerasi sel ganglion dan serabut saraf dari retina berupa penciutan lapangan pandang(skotoma)
  • Atropi iris dan corpus siliar serta degenerasi hialin pada prosesus siliar

Manifestasi Klinik

  • Menahun. Mulainya gejala glaukoma simpleks ini agak lambat, kadang tidak disadari penderita(silent disease). Mata tidak merah dan tidak ada keluhan lain. Pasien datang biasanya jika sudah ada gangguan penglihatan, keadaan penyakitnya sudah berat.
  • Hampir selalu bilateral
  • Refleks pupil lambat, injeksi siliar tidak terlihat
  • TIO meninggi, KOA mungkin normal, dan pada gonioskopi terdapat sudut yang terbuka
  • Lapangan pandang mengecil atau menghilang
  • Atropi nervus optikus dan terdapat cupping abnormal (C/D > 0,4)
  • Tes provokasi positif
  • ‘Facility of outflow’ menurun. Pada gambaran patologi ditemukan proses degeneratif pada jala trabekula, termasuk pengendapan bahan ekstrasel di dalam jala dan di bawah lapisan endotel kanal Schlemm.

Diagnosis

Terdapat tiga faktor untuk diagnosis glaukoma;

  • TIO level à menigkat
  • Kelainan nervus optikus à C/D > 0,4
  • Visual field loss

Dua dari faktor di atas harus ada. Jika hanya TIO yang meningkat à hipertensi okuler.

Untuk diagnosis glaukoma simpleks, sudut KOA terbuka dan tampak normal.

Diagnosis Banding

  • Glaukoma bertekanan rendah
  • Glaukoma sudut tertutup kronik
  • Glaukoma sekunder dengan sudut terbuka

Pemeriksaan Penunjang

Masalah utama dalam deteksi glaukoma simpleks adalah tidak adanya gejala sampai stadium lanjut penyakit. Saat pertama kali menyadari adanya pengecilan lapangan pandang, biasanya telah terjadi pencekungan glaukomatosa yang bermakna. Agar berhasil, terapi harus dilakukan pada tahap dini, yang menuntut program penapisan aktif. Kendalanya, kita tidak dapat mengandalkan satu kali pemeriksaan TIO dan pemeriksaan kelainan optic disc serta visual field loss.

Perimetri okulokinetik adalah teknik baru yang mungkin menawarkan solusi untuk masalah ini. Saat ini diagnosis dini kita masih mengandalkan pemeriksaan oftalmoskopi teratur bagi kerabat pasien dan pada pemeriksaan optic disc dan tonometri, yang menjadi bagian dari pemeriksaan fisik rutin orang dewasa berusia lebih dari 30tahun.

Tata Laksana

1)      Medikamentosa

a.       Miotikum

Fungsi : mengecilkan pupil sehingga sudut akan lebih terbuka, mempermudah aliran aqueous humor dengan meninggikan efisiensi saluran ekskresi. Drug of choice :  pilokarpin 1%-4%

Kontra indikasi pada katarak dengan glaukoma kronik, karena akan menambah kabur penglihatan. Pada usia muda, terdapat artifisial myopia karena terjadi akomodasi yang bersifat spasme karena pemberian miotikum.

b.      Carbachol 0,75%-3%

Termasuk obat kolinergik, diberikan bila pilokarpin tidak mempan atau alergi terhadap pilokarpin. Berikan obat dari konsentrasi terendah.

c.       Epinefrin 0,5%-2%

Fungsi à menurunkan produksi aqueous humor dan meningkatkan ekskresi cairan aqueous. Kerjanya lebih lama dibandingkan miotikum.

d.      Timolol maleat

e.       Merupakan golongan beta adrenergic yang akan menurunkan TIO dengan menurunkan produksi aqueous. Sediaannya 0,25% dan 0,5%, diteteskan 2xsehari.

f.       Carbonic anhidrase inhibitor (diamox)

Tabletnya 125-250mg, 4xsehari. Fungsinya menekan produksi aqueous, pemakaian lama dapat menimbulkan renal calculi.

 

2)      Pembedahan

Merupakan tindakan membuat filtrasi cairan mata keluar dari bilik mata dengan operasi Schele, trabekulektomi, dan iridenkliesis

3)      Laser trabeculoplasty

 

Prognosis

Tanpa pengobatan, glaukoma dapat menimbulkan kebutaan total. Jika obat tetes antiglaukoma dapat mengontrol TIO, prognosis jadi lebih baik.

 

Rujukan

Setelah diberikan pertolongan pertama pada pasien, segera rujuk pada dokter spesialis mata/ pelayanan tingkat sekunder/ tersier.

2. Glaukoma Sudut Tertutup Akut

Definisi

Peninggian TIO akibat hambatan pada sudut KOA karena oleh akar iris

Epidemiologi

Biasanya terdapat pada usia yang lebih tua dan jarang terlihat pada usia di bawah 50tahun. Lebih sering pada wanita, juga ada kecenderungan familiar seperti glaukoma sudut terbuka kronik.

Etiologi dan Faktor Risiko

Glaukoma sudut tertutup akut apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan sudut KOA oleh iris perifer.

Faktor risiko terjadinya glaukoma sudut tertutup ini adalah usia tua dan penderita hipermetropi.

Patofisiologi

Mekanismenya adalah peninggian TIO karena blok pupil relative, dengan bersentuhnya pinggir pupil dengan permukaan depan lensa melalui suatu proses semi midriasis. Hal ini akan menghasilkan tekanan yang meninggi pada KOP(Kamera Okuli Posterior) karena terdorongnya bagian iris perifer ke depan dan menutup sudut KOA. Hal ini terutama terjadi pada orang dengan KOA dangkal.

Jadi, ada beberapa hal penting yang berperan menimbulkan glaukoma sudut tertutup ini :

  1. Blok pupil relative yang maksimal terdapat pada pupil dengan lebar 4-5mm.
  2. Lensa yang bertambah besar, terutama pada usia tua. Makin bertambah usia, lensa bertambah besar, sehingga mudah terjadi blok pupil relative.
  3. Tebalnya iris bagian perifer dan terjadinya iris bombe yang mendorong ke arah trabekula sehingga muara trabekula tertutup.
  4. KOA yang dangkal, terdapat pada hipermetropia(karena sumbu bola mata pendek) dan pada usia tua(karena ukuran lensa yang bertambah besar).

Manifestasi Klinik

  • Penglihatan kabur, gambaran pelangi terlihat di sekitar lampu (halo) akibat udem kornea(cairan aqueous masuk ke kornea)
  • Nyeri kepala hebat(mengikuti jalannya N.V), mual, muntah(akibat reflex oculovagal)
  • Injeksi siliar (+), KOA dangkal, iris atropi, reflex pupil lambat/(-)
  • Pupil melebar disertai sumbatan pupil, sering terjadi malam hari karena pencahayaannya berkurang
  • TIO meningkat, pada gonioskopi sudut KOA tertutup

Serangat akut dapat berlangsung lama, dapat pula berjalan beberapa jam kemudian mengalami resolusi. Pada keadaan resolusi, hanya akan ditemui gambaran seperti’iridosiklitis’ dimana adanay flare dn injeksi siliar ringan. Setelah keadaan tenang, akan ditemui gejala sisa, seperti atropi iris, katarak, dan pupil irregular serta adanya sinekia posterior dan anterior dengan TIO norml atau hipotoni akibat atropi corpus siliar. Selain itu, akan ditemukan atropi nervus optikus.

Diagnosis Banding

  • Iritis akut
  • Konjungtivitis akut
  • Iridosiklitis akut dengan glaukoma sekunder. Di sini penting pemeriksaan gonioskopi,akan ditemukan sudut KOA yang terbuka.
  • Semua glaukoma akut non primer, terutama ‘Glaucomatocyclic Crisis Acute’. Sudut KOA terbuka

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan gonioskopi, terutama untuk menilai sudut KOA

Tata Laksana

Prinsip pengobatan glaukoma sudut tertutup akut adalah pembedahan. Sebelumnya, kita harus berusaaha menurunkan TIO dengan obat-obatan. Usaha membebaskan dari serangan akut ini adalh dengan obat antiglaukoma, seperti :

  • Pilokarpin 2%/4% untuk menarik iris dari sudut KOA
  • Diamox, bisa oral(4x250mg) atau parenteral(500mg IV)
  • Obat-obat hiperosmotik, sangat berguna pada serangan akut, dengan mengadakan suatu tekanan osmotik yang tinggi dalam darah sehingga menarik air dari bola mata. Sering pilokarpin hanya efektif setelah pemberian obat ini karena pada tekanan sangat tinggi sphingter iris sering paralise. Contoh obat hiperosmotik; gliserol, manitol, dan urea.
  • Setelah diberikan obat-obat di atas, nilai apakah serangan akut sudah berhenti. Sebagai parameter, kita nilai pupil, sudut KOA, dan TIO. Biasanya setelah 3-4jam serangan akut dapat teratasi. Jika masih belum, lakukan pembedahan sesegera mungkin. Kita hanya boleh menunggu 6jam dari serangan awal. Tindakan bedah yang dipilih :         – laser iridectomi
  • perifer iridectomi

Prognosis

Jika terapi tertunda, iris perifer dapat melekat ke jala trabekula, sehingga menimbulkan sumbatan irreversible yang memerlukan tindakan bedah. Komplikasi dan sekuele yang sering timbul :

  • Sinekia anterior
  • Katarak
  • Atropi terina dan nervus optikus
  • Glaukoma absolute(stadium akhir)

Rujukan

Setelah diberikan pertolongan pertama pada pasien, segera rujuk pada dokter spesialis mata/ pelayanan tingkat sekunder/ tersier.

GLAUKOMA SEKUNDER

Defenisi

Glaukoma yang diakibatkan kelainan mata atau kelainan sistemik.

Etiologi

Yang termasuk glaukoma sekuder adalah glaukoma yang disebabkan oleh :

  • Uveitis
  • Tumor intra okuler
  • Trauma mata
  • Perdarahan dalam bola mata
  • Perubahan-perubahan lensa
  • Kelainan-kelainan congenital
  • Kortikosteroid
  • Post operasi
  • Rubeosis iridis
  • Penyakit sistemik,dll.

Patologi

Glaukoma sekunder ini bisa terdapat dengan sudut terbuka ataupun sudut tertutup.

1)Glaukoma Sekunder akibat Uveitis

Terjadi udem jaringan trabekula dan endotel sehingga menimbulkan sumbatan pada muara trabekula. Peninggian protein pada aqueous dan sel radang akan memblokir trabekula. Juga terdapat hiperekskresi karena adanya iritasi.

2) Glaukoma Sekunder akibat Tumor Intra Okuler

Glaukoma terjadi karena volume yang ditempati tumor makin lama makin besar, iritasi akibat zat toksik yang dihasilkan tumor, dan sudut KOA tertutup akibat desakan tumor ke depan. Contohnya, pada melanoma dan retinoblastoma.

3) Glaukoma Sekunder akibat Trauma Mata

Trauma tumpul atau tembus dapat menimbulkan robekan iris atau corpus siliar dan terjadilah perdarahan pada KOA, TIO meninggi dengan cepat, dan hasil-hasil pemecahan darah atau bekuan menempati saluran-saluran aliran cairan. Komplikasi yang timbul kalau TIO tidak diturunkan adalah imbibisi kornea.

4) Glaukoma Sekunder akibat Perubahan Lensa

a.  Dislokasi lensa (sublukasi/luksasi)

Subluksasi anterior, menekan iris posterior ke depan, sehingga menahan aliran akuos karena sudut KOA menjadi sempit.

Sublukasi juga bisa ke posterior. Luksasi lensa juga bisa ke KOA.

b. Pembengkakan lensa

Ini terjadi pada lensa yang akan mengalami katarak. Lensa akan menutup pupil sehingga terjadi blok pupil.

c. Glaukoma fakolitik

Kapsul lensa katarak hipermatur memiliki permeabilitas yang tinggi. Melalui tempat-tempat yang bocor keluar massa korteks, yang kemudian dimakan makrofag di KOA. Makrofag ini berkumpul di sekeliling jala trabekula dan bersama-sama material lensa akan menyumbat muara trabekula sehingga terjadilah glaukoma sekunder sudut terbuka.

d.      Glaukoma fakoanafilaktik

Protein lensa dapat menyebabkan reaksi fakoanafilaktik, dalam hal ini terjadi uveitis. Protein dan debris seluler menempati sistem ekskresi  dan menutup aliran akuos.

5) Glaukoma Sekunder akibat Kortikosteroid

Patogenesa nya belum jelas. Sering dengan sudut terbuka disertai riwayat glaukoma yang turun temurun. Prosesnya seperti glaukoma simpleks

6) Hemorrhagic Glaucoma

Bentuk ini diakibatkan pembentukan pembuluh darah baru pada permukaan iris (rubeosis iridis) dan pada sudut KOA. Jaringan fibrovaskuler menghasilkan sinekia anterior yang akan menutup sudut KOA, akibatnya TIO meninggi, dan mata yang demikian sering mendapat komplikasi dari recurrent hyfema.

Manifestasi Klinik

Gejala yang ditimbulkan tergantung penyakit dasarnya. Ditambah dengan gejala dari jenis glaukoma nya, apakah sudut tertutup atau sudut terbuka.

Diagnosis

Tergantung penyakit dasar dan tipe glaucoma

Tatalaksana

Obati dulu penyakit dasarnya. Untuk glaukoma, penatalaksanaannya sama dengan penjelasan sebelumnya, tergantung tipe glaukoma yang ditimbulkan.

Prognosis

Tergantung penyakit dasar

Rujukan

Setelah diberikan pertolongan pertama pada pasien, segera rujuk pada dokter spesialis mata/ pelayanan tingkat sekunder/ tersier.

GLAUKOMA KONGENITAL

Defenisi

Kadaan TIO yang meninggi, yang akan menimbulkan kerusakan pada mata dan memburuknya tajam penglihatan pada masa bayi atau anak-anak.

Epidemiologi

Glaukoma congenital primer didapat secara herediter, merupakan jenis terbanyak dari glaukoma congenital. Sekali-sekali disertai kelainan congenital lainnya.

Glaukoma ini adalah tipe yang umum pada bayi, kebanyakan dikenal pada bulan-bulan pertama bayi dan umumnya terdapat pembesaran kornea, kekeruhan kornea, dan fotofobia. Glaukoma ini juga dikenal sebagai buftalmus/hidropthalmia.

Etiologi dan Faktor Resiko

Unknown

Patofisiologi

Secara historis, perkembangan abnormal dari daerah filtrasi iridokorneal dianggap sebagai penyebab glaukoma congenital. Dianggap bahwa pada glaukoma infantile primer, terdapat selaput tipis dan intak menutupi KOA. Ini mencegah aliran cairan akuos dan akhirnya TIO menigkat.

Manifestasi Klinik

  • Epiphora, Adalah suatu hal yang biasa terdapat pada bayi-bayi karena penyumbatan duktus nasolakrimalis secara congenital.
  • Fotofobia
  • Blefarospasme
  • Kornea membesar, keruh dan udem
  • Cupping dari optic disc
  • Glaukoma sudut terbuka
  • KOA lebih dalam

Diagnosis Banding

Yang terpenting adalah megalo kornea(/makro kornea). Diameter biasanya 14-16mm. di sini tidak terdapat TIO yang meninggi, tidak ada robekan membrane descemet dan tidak ada kelainan cup pada optic disc.

Pemeriksaan Penunjang

Bayi atau anak yang dicurigai memiliki glaukoma congenital harus dilakukan pemeriksaan sesegera mungkin dengan narkose, terhadap :

  • Besarnya kornea
  • TIO
  • C/D ratio pada nervus optikus
  • Sudut KOA dengan gonioskopi

Tatalaksana

Tujuan pengobatan adalah untuk mempertahankan visus, dengan mengontrol TIO.

-          Pembedahan

Goniotomi adalah “operation of choice”. Yaitu hanya dengan melakukan insisi pada uveal-meshwork. Insisi dibuat ke dalam jala trabekula tepat di bawah garis Schwalbe.

-          Medikamentosa

Terbatas, karena obat-obat topical jarang efektif dan obat sistemik sulit diberikan

Prognosis

Tergantung pada cepatnya tindakan pengobatan, terkontrolnya TIO, dan adanya udem kornea dari lahir.

Rujukan

Setelah diberikan pertolongan pertama pada pasien, segera rujuk pada dokter spesialis mata/ pelayanan tingkat sekunder/ tersier.

GLAUKOMA ABSOLUT

Defenisi

Stadium akhir glaukoma dimana visus=0.

Manifestasi Klinik

Kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan ekskavasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan terasa sakit.

Tatalaksana

Pasien yang tidak mengeluh kesakitan, tidak diberikan obat. Pada pasien yang mengeluh kesakitan dapat diberikan :

Sinar beta pada corpus siliar

Injeksi alcohol retrobulber

Kalau tidak sembuh lakukan enukleasi

Prognosis

Sangat jelek, karena sudah terjadi kebutaan yang irreversible.

Rujukan

Setelah diberikan pertolongan pertama pada pasien, segera rujuk pada dokter spesialis mata/ pelayanan tingkat sekunder/ tersier.

KATARAK

Posted: Januari 5, 2011 in Uncategorized

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.

KATARAK KONGENITAL

Defenisi

Katarak congenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun.

Epidemiologi

Hamper 50% katarak congenital adalah sporadic dan tidak diketahui penyebabnya.

Etiologi dan Faktor Resiko

Katarak congenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubella, galaktosemia, homosisteinuri, diabetes mellitus, hipoparatiroidism, homosisteinuri, toksoplasmosis, inklusi sitomegalik dan histoplasmosis.

Patofisiologi

Kekeruhan pada lensa menyebabkan sinar yang dating ke mata mengalami rintangan saat dibiaskan sampai ke retina, sehingga terjadi penurunan tajam penglihatan.

Manifestasi Klinik

Pada pupil mata bayi yang menderita katarak congenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.

Diagnosis

Evaluasi pada Pelayanan Primer

a.       Pemeriksaan posisi dan gerak bola mata

b.      Pemeriksaan visus yang disesuaikan dengan umur

c.       Pemeriksaan segmen anterior dengan senter dan lup, sebelum dan sesudah dilakukan dilatasi pupil dengan tropicamide 0,5%

Diagnosis Banding

Diagnosis banding adalah kelainan lain akibat gangguan refraksi pada anak.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang adalah

1.     Pemeriksaan riwayat prenatal ibu

2.     Uji reduksi pada urine. Jika pada katarak di dapat hasil positif, mungkin penyebabnya adalah galaktosemia.

3.     Pemeriksaan darah. Ada hubungan katarak congenital dengan diabetes mellitus, kalsium dan fosfor.

Tatalaksana

Tatalaksana pada Pelayanan Primer adalah penderita segera dirujuk ke fasilitas tersier untuk pemeriksaan dan penanganan selanjutnya

Tatalaksana adalah operasi. Operasi dilakukan bila reflex fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan.

Pengobatan katarak congenital bergantung kepada:

a.       Katarak total bilateral, sebaiknya pembedahan segera setelah katarak terlihat.

b.      Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau segera sebelum terjadinya juling

c.       Katarak total atau congenital unilateral, prognosis buruk karena mudah terjadi ambliopia, dilakukan pembedahan secepatnya, diberikan kacamata dengan latihan bebat mata

d.      Katarak bilateral partial, pengobatan lebih konservatif, dicoba memakai kacamata, bila terjadi kekeruhan progresif disertai dengan mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia maka dilakukan pembedahan. Prognosis lebih baik.

Prognosis

Prognosis visus tergantung dari jenis katarak (unilateral/ bilateral, total/partial) ada tidaknya kelainan mata yang menyertai katarak, tindakan operasi (waktu operasi, teknik operasi, komplikasi operasi) dan rehabilitasi tajam penglihatan pasca operasi.

Umumnya kurang memuaskan. Jika terdapat nistagmus, prognosisnya buruk.

Rujukan

Merujuk penderita ke pelayanan kesehatan mata tersier.

Komplikasi

Komplikasinya adalah ambliopia sensoris, nistagmus dan strabismus. Ambliopia sensoris karena macula lutea tidak cukup mendapat rangsangan sehingga tidak berkembang sempurna.

KATARAK  PADA DEWASA

Jenis jenis

Beberapa jenis katark pada dewasa adalah

1.      Katarak Rubela,

2.      Katarak Senil, adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun

3.      Katarak Komplikata, adalah katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi seperti ablasi retini, retinis pigmentosa, glaucoma, tumor intra ocular, iskemia ocular, nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata.

4.      Katarak Diabetes, merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes mellitus.

5.      Katarak Sekunder, merupakan katarak yang terbentuk akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal.

Etiologi , Epidemiologi dan Faktor Resiko

Katarak pada penderita dewasa paling sering berkaitan dengan proses degenerasi lensa pada penderita berusia lanjut yaitu di atas 40 tahun (katarak senilis). Katarak pada penderita dewasa ( berusia di atas 18 tahun) selain karena proses degenerasi, juga dapat disebabkan oleh penyakit mata seperti glaucoma, uveitis, trauma mata dan lain-lain, ataupun menderita kelainan sistemik seperti diabetes mellitus, riwayat penggunaan obat-obatan steroid dan lain-lain.

Patofisiologi

Derajat katarak adalah sebagai berikut

1.      Derajat 1, nucleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan. Reflex fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia penderita juga biasanya kurang dari 50 tahun

2.      Derajat 2, nucleus dengan kekerasan ringan, tampak nucleus mulai sedikit berwarna kekuningan, visus biasanya antara 6/12 sampai 6/30. Refleks fundus juga masih mudah diperoleh dan katark jenis ini paling sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.

3.      Derajat 3, nucleus dengan kekerasan medium, dimana nucleus tampak berwarna kuning disertai dengan kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Visus biasanya antara 3/60 sampai 6/30.

4.      Derajat 4, nucleus keras, dimana nucleus sudah berwarna kuning kecoklatan dan visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60, diamana reflex fundus maupun keadaan fundus sudah sulit dinilai.

5.      Derajat 5, nucleus sangat keras, nucleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita sudah di atas 65 tahun. Katark ini sangat keras dan disebut juga brunescent cataract atau black cataract.

Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik katarak pada dewasa secara umum adalah

1.      Penurunan visus secara perlahan-lahan

2.      Ukuran kacamata semakin sering mengalami perubahan

3.      Keluhan silau

4.      Kesulitan membaca

Diagnosis

Diagnosis melalui gejala klinis dan ophtalmoscope

Diagnosis Banding

Diagnosis banding adalah penyakit akibat kelainan refraksi pada dewasa lainnya

Tatalaksana

Tatalaksana pada pelayanan kesehatan mata primer adalah

Penatalaksanaan bersifat non bedah, dimana pasien dengan visus >6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan pasien atau ada indikasi lain untuk operasi.

Prognosis

Prognosis tergantung onset, waktu pengobatan, pengobatan yang adekuat dan penyakit peserta. Pada penderita yang berusia lanjut sering penyakit belum selesai diobati karena penderita telah meninggal usia.

Rujukan

Jika visus <6/12 atau sudah mengganggu untuk melakukan kegiatan sehari-hari bekerjaan dengan pekerjaan, atau ada indikasi lain untuk operasi, maka pasien dirujuk ke dokter spesialis mata pada fasilitas sekunder atau tersier.

KELAINAN REFRAKSI

Posted: Januari 5, 2011 in Uncategorized

EMETROPIA

Defenisi

Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan berfungsi normal. Sinar jatuh difokuskan sempurna di daerah macula lutea tanpa bantuan akomodasi.

AKOMODASI

Defenisi

Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar, akibatnya daya pembiasan lensa bertambah kuat. Kekuatan akomodasi diatur oleh reflex akomodasi yang akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu konvergensi atau melihat dekat.

PRESBIOPIA

1. Defenisi

Presbiopi adalah keadaan berkurangnya daya akomodasi pada usia lanjut

2. Epidemiologi

Terjadi mulai pada usia 40 tahun ke atas

3. Etiologi dan Faktor Resiko

Gangguan akomodasi pada presbiopi dapat terjadi akibat

a.       Kelemahan otot akomodasi

b.      Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa

4. Patofisiologi

Akibat kelemahan otot akomodasi dan lensa mata yang  berkurang elastisitasnya menyebabkan sinar yang dating kea rah mata di biaskan di belakang retina, sehingga bayangan tidak jatuh tepat di retina sehingga penderita tidak mampu melihat benda dengan jelas.

5. Manifestasi Klinik

Manifestasi kliniknya hamper sama dengan hipermetropi

6. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan manifestasi klinik dan pemeriksaan ophtalmoscope.

7. Diagnosis Banding

Diagnosis banding adalah hipermetropi dan low vision jika hipermetropinya lebih dari 3 dioptri.

8. Tatalaksana

Dikoreksi dengan lensa positif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.

9. Prognosis

Karena kelainan ini disebakan karena proses degenerasi, maka prognosisnya cukup jelek.

AMETROPIA

Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. Terjadi akibat kelainan kekuatan pembiasan sinar media penglihatan atau kelainan bentuk bola mata.

Dikenal berbagai bentuk ametropia

a.       Ametropia aksial

Yaitu ametropia yang terjadi akibat sumbu optic bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina.

Pada myopia aksial focus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang dan pada hipermetropia aksial focus bayangan terletak di belakang retina.

b.      Ametropia refraktif

Yaitu ametropia akibat kelainan system pembiasan sinar di dalam mata. Bila daya bias kuat maka bayangan benda terletak di depan retina (myopia), bila daya bias kurang maka bayangan benda akan terletak di belakang retina (hipermetropi refraktif).

Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk:

1. Miopia

1.1. Defenisi

Miopi adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan  sehingga sinar sejajar yang dating dibiaskan di depan retina

1.2. Klasifikasi

Dikenal beberapa bentuk myopia:

a.       Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.

b.      Myopia aksial, myopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa normal.

c.       Myopia kurvatura, besar bola mata normal tetapi kurvatura kornea dan lensa lebih besar dari normal.

Menurut derajat beratnya myopia dibagi dalam:

a.       Myopia ringan, miopianya 1-3 dioptri

b.      Miopia sedang, miopinya 3-6 dioptri

c.       Miopia berat atau tinggi, miopinya lebih besar dari 6 dioptri

Menurut perjalanan myopia dikenal bentuk

a.       Myopia stasioner, myopia menetap setelah dewasa

b.      Myopia progresif, myopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata

c.       Myopia maligna, myopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan myopia pernisiosa/myopia maligna/miopiadegeneratif. Biasanya terjadi bila myopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.

1.3. Epidemiologi

Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

1.4. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab kelainan ini sesuai jenisnya masing-masing, yaitu diameter anterior posterior bola mata yang lebih panjang, kurvatura kornea dan lensa yang lebih besar, dan perubahan indeks refraktif.

1.5. Patofisiologi

Diameter anterior posterior bola mata yang lebih panjang, kurvatura kornea dan lensa yang lebih besar, dan perubahan indeks refraktif menyebabkan sinar yang dating sejajar kearah mata dibiaskan di depan retina, sehingga bayangan kabur pada retina.

1.6. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik miopi adalah

a.       Pasien menyatakan melihat lebih jelas bila dekat malahan melihat terlalu dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau disebut pasien adalah rabun jauh.

b.      Paisen mengeluh sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak mata yang sempit

c.       Pasien mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi, jika kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esoptropia.

1.7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan dengan ophtalmoscope.

1.8. Diagnosis Banding

Diagnosis bandingnya diantaranya hipermetropi dengan kekuatan lebih dari 3 Dioptri.

1.9. Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata myopia, sclera oleh koroid.

1.10. Tatalaksana

Memberikan kacamata sferis negative terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.

1.11. Prognosis

Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

1.12. Komplikasi

Komplikasi yang dapat timbul yaitu ablasi retina dan juling. Juling biasanya esotropia atau juling ke dalam akibat mata berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia.

1.13. Rujukan

Pasien dengan kelainan ini dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan mata sekunder (spesialis mata) jika tidak menunjukkan hasil yang memuaskan setelah diberi koreksi kacamata atau terdapat komplikasi.

2. Hipermetropi

2.1. Defenisi

Keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina.

2.2. Klasifikasi

Berdasar struktur bola mata

1.      Hipermetropi refraktif, berkurangnya indeks bias media penglihatan

2.      Hipermetropi aksial, kekuatan refraksi mata normal, tetapi diameter anterior posterior bola mata lebih pendek dari normal

3.      Hipermetropi kurvatura, besar bola mata normal tetapi kurvatura kornea dan lensa lebih lemah dari normal

2.3. Epidemiologi

Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

2.4. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab kelainan ini sesuai jenisnya masing-masing, yaitu diameter anterior posterior bola mata yang lebih pendek, kurvatura kornea dan lensa yang lebih lemah, dan perubahan indeks refraktif

2.5. Patofisiologi

Diameter anterior posterior bola mata yang lebih pendek, kurvatura kornea dan lensa yang lebih lemah, dan perubahan indeks refraktif menyebabkan sinar sejajar yang dating dari objek terletak jauh tak terhingga di biaskan di belakang retina.

2.6. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik hipermetropi adalah

a.       Bila 3 dioptri atau lebih, atau pada usia tua, pasien mengeluh penglihatan jauh kabur.

b.      Penglihatan dekat lebih cepat buram, akan lebih terasa lagi pada keadaan kelelahan, atau penerangan yang kurang.

c.       Sakit kepala biasanya pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat jangka panjang. Jarang terjadi pada pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan bisa membaik spontan kegiatan melihat dekat dihentikan.

d.      Eyestrain

e.       Sensitive terhadap cahaya

f.       Spasme akomodasi, yaitu terjadinya cramp m. ciliaris diikuti penglihatan buram intermiten

2.7. Diagnosis

Pada pasien dengan daya akomodasi yang masih sangat kuat atau pada anak-anak, sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan pemberian siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi.

2.8. Diagnosis Banding

Diagnosis Banding kelainan ini adalah Presbiopi.

2.9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang adalah ophtalmoscope.

2.10. Tatalaksana

Diberikan koreksi hipermetropia manifest dimana tanpa siklopegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajaman penglihatan normal.

Bila terdapat juling ke dalam atau esotropia diberikan kacamata koreksi hipermetropia total. Bila terdapat tanda atau bakat juling keluar (eksoforia) maka diberikan kacamata koreksi positif kurang.

2.11. Prognosis

Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

2.12. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi adalah esotropia dan glaucoma. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.

2.13. Rujukan

Pasien dengan kelainan ini dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan mata sekunder (spesialis mata) jika tidak menunjukkan hasil yang memuaskan setelah diberi koreksi kacamata atau terdapat komplikasi.

3. Astigmat

3.1. Defenisi

Astigmat adalah suatu keadaan dimana berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea.

3.2. Klasifikasi

Tipe-tipe astigmatisma:

1.      Astigmatisma hipermetropikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik, meridian yang lainnya hipermetropik.

2.      Astigmatisma miopikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik, meridian lainnya miopi

3.      Astigmatisma hipermetropikus kompositus, kedua meridian utama hipermetropik dengan derajat berbeda.

4.      Astigmatisma miopikus kompositus, kedua meridian utamanya miopik dengan derajat berbeda

5.      Astigmatisma mikstus, satu meridian utamanya hipermetropik, meridian yang lain miopik.

3.3. Epidemiologi

Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

3.4. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab kelainan ini adalah terdapatnya perbedaan diameter anterior posterior bola mata, kurvatura kornea dan lensa serta indek bias kedua mata.

3.5. Patofisiologi

Perbedaan diameter anterior posterior bola mata, kurvatura kornea dan lensa serta indek bias kedua mata menyebabkan sinar sejajar tidak dibiaskan secara seimbang pada seluruh meridian.

3.6. Manifestasi Klinik

Manifestasi Klinik dari kelainan ini adalah

a.       Penglihatan buram

b.      Head tilting

c.       Menengok untuk melihat jelas

d.      Mempersempit palpebra

e.       Memegang bahan bacaan lebih dekat

3.7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan dengan ophtalmoscope.

3.8. Diagnosis Banding

Diagnosis banding kelainan ini adalah miopi dan hipermetropi.

3.9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang adalah ophtalmoscope.

3.10. Tatalaksana

Koreksi dengan lensa silinder bersama dengan sferis kalau ada.

3.11. Prognosis

Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang (biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

3.12. Rujukan

Pasien dengan kelainan ini dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan mata sekunder (spesialis mata) jika tidak menunjukkan hasil yang memuaskan setelah diberi koreksi kacamata atau terdapat komplikasi.

KESEHATAN USIA LANJUT (LANSIA)

Posted: Januari 5, 2011 in Uncategorized

1. PERUBAHAN FISIK PADA USIA LANJUT

Perubahan fisik pada usia lanjut meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a. Sistem pernafasan pada lansia.

Perubahan yang terjadi pada system pernapasan lansia adalah

  1. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
  2. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
  3. Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
  4. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
  5. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
  6. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
  7. kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

b. Sistem Persyarafan

Perubahan yang terjadi pada system persyarafan lansia adalah

  1. Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
  2. Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
  3. Mengecilnya syaraf panca indera.
  4. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

c. Panca indera

Perubahan yang terjadi pada panca indera lansia adalah

1)      Penglihatan, perubahan penglihatan yang terjadi adalah

  • Kornea lebih berbentuk skeris.
  • Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
  • Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
  • Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
  • Hilangnya daya akomodasi.
  • Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
  • Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.

2)      Pendengaran, perubahan pendengaran yang terjadi adalah

  • Presbiakusis (gangguan pada pendengaran), hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
  • Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
  • Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.

3)      Pengecap dan penghidu, perubahan pengecap dan penghidu yang terjadi adalah

  • Menurunnya kemampuan pengecap.
  • Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.

4)      Peraba, perubahan peraba yang terjadi adalah

  • Kemunduran dalam merasakan sakit.
  • Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

d. Perubahan cardiovascular

Perubahan yang terjadi pada system cardiovascular lansia adalah

  1. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
  2. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
  3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
  4. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
  5. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ).

e. Sistem Genito Urinaria

Perubahan yang terjadi pada system genitor urinaria lansia adalah

  1. Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
  2. Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
  3. Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
  4. Atropi vulva.
  5. Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.
  6. Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.

f. Sistem Endokrin/metabolic

Perubahan yang terjadi pada system endokrin/metabolik lansia adalah

  1. Produksi hampir semua hormon menurun.
  2. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
  3. Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
  4. Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.
  5. Menurunnya produksi aldosteron.
  6. Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.
  7. Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

g. Sistem Pencernaan

Perubahan yang terjadi pada system pencernaan lansia adalah

  1. Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
  2. Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
  3. Esofagus melebar.
  4. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
  5. Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
  6. Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
  7. Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

h. Sistem musculoskeletal

Perubahan yang terjadi pada system muskuloskeletal lansia adalah

1)      Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.

2)      resiko terjadi fraktur.

3)      kyphosis

4)      persendian besar & menjadi kaku.

5)      pada wanita lansia > resiko fraktur.

6)      Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.

7)      Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).

  • Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan.
  • Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus.
  • Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus
  • Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter.

i. Sistem kulit dan jaringan ikat

Perubahan yang terjadi pada system kulit dan jaringan ikat lansia adalah

1)      Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2)      Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa

3)      Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.

4)      Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.

5)      Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.

6)      Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.

7)      Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.

8)      Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.

9)      Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

10)  Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.

j. Sistem Reproduksi dan kegiatan sexual

Perubahan yang terjadi pada system reproduksi dan kegiatan sexual lansia adalah

1)      Sistem Reproduksi, perubahan yang terjadi adalah

a)      selaput lendir vagina menurun/kering.

b)      menciutnya ovarium dan uterus.

c)      atropi payudara.

d)     testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.

e)      dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.

2)      Kegiatan seksual, perubahan yang terjadi

Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas.

Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.

2. PERUBAHAN MENTAL PADA USIA LANJUT

Streotipe psikologik orang lanjut usia adalah sebagai berikut

1.      Tipe Konstruktif

Orang ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati hidupnya, mempunyai toleransi tinggi, humanistic, fleksibel (luwes), dan tahu diri. Biasanya sifat-sifat ini dibawa sejak muda. Orang ini dapat menerima fakta-fakta proses menua mengalami masa pension dengan tenang, juga dalam menghadapi masa akhir.

2.      Tipe Ketergantungan

Orang ini pasif, tidak berambisi, tidak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis. Biasanya dikuasai istrinya. Orang tipe ini senang mengalami pension, malahan biasanya banyak makan dan minum, tidak suka bekerja dan senang untuk berlibur.

3.      Tipe defensive

Orang tipe ini biasanya dulu mempunyai pekerjaan/jabatan tidak stabil, bersifat selalu menolak bantuan, dan seringkali emosinya tidak dapat dikontrol, memegang teguh terhadap kebiasaannya bersifat kompulsif aktif. Orang tipe ini takut menghadapi kenyataan menjadi tua dan tak menyenangi masa pension.

4.      Tipe Bermusuhan

Orang tipe ini menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh, bersifat agresif, curiga. Biasanya dahulu mempunyai pekerjaan yang tidak stabil. Menjadi tua dianggap tidak ada hal-hal yang baik, takut mati, iri hati pada orang yang muda.

5.      Tipe Membenci/Menyalahkan Diri Sendiri

Orang tipe ini bersifat kritis, menyalahkan diri sendiri, tidak mempunyai ambisi, mengalami penurunan kondisi sosioekonomi. Biasanya perkawinannya tidak bahagia, punya sedikit hobby, merasa menjadi korban dari keadaan.

Beberapa masalah di bidang psikogeriatri

1.      Kesepian

Biasanya dialami oleh seorang lanjut usia saat meninggalkan pasangan hidup atau teman dekat, terutama bila dirinya saat itu juga mengalami berbagai penurunan status kesehatan.

2.      Duka cita

Meninggalnya pasangan hidup, seorang teman dekat atau bahkan seekor hewan yang sangat disayangi, bisa mendadak memutuskan ketahanan kejiwaan yang sudah rapuh dari seorang lansia yang selanjutnya akan memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatannya.

3.      Depresi

Berupa apatis dan penarikan diri dari aktivitas social, gangguan memori, perhatian serta memburuknya kognitif secara nyata

4.      Gangguan cemas

Berupa fobia, gangguan panic, gangguan cemas umum, gangguan stress pasca trauma dan gangguan obsesif-kompulsif.

3. PENYAKIT SISTEMIK DAN IMUNISASI PADA USIA LANJUT

Sistem imunitas tubuh orang tua ditingkatkan melalui upaya imunisasi dan nutrisi. Tujuan imunisasi untuk memelihara sistem imunitas melawan agen infeksi. Imunisasi/vaksin mengandung substansi antigen yang sama dengan patogen asing agar sistem imun kenal patogen asing dengan menghasilkan sel T dan sel B. Influenza dan pneumonia adalah dua penyakit yang paling sering diderita oleh orang tua sehingga perlu diberikan vaksinasi influenza bagi mereka. Tetapi respons antibodi tubuh dan response sel T orang tua terhadap vaksin lebih rendah daripada orang muda mempengaruhi efek pemberian vaksin tersebut.

4. KEBUTUHAN NUTRISI PADA USIA LANJUT

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada Lansia

  1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
  2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
  3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
  4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
  5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
  6. Penyerapan makanan di usus menurun.

Masalah Gizi Pada Lansia

1.      Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

2.      Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3.      Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.

Perencanaan Makanan Untuk Lansia

1.      Perencanaan makan secara umum, yaitu sebagai berikut

a.       Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

b.      Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.

c.       Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.

d.      Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.

e.       Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Makanlah makanan yang mudah dicerna
  • Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
  • Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang
  • Makan dalam porsi kecil tetapi sering
  • Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan
  • Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
  • Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
  • Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng

2.      Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna, untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid :

a.       Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti sayuran dan buah-buahan segar, roti dan sereal.

b.      Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk melembutkan feses.

c. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin , karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif.

Nutrisi dan Mineral–Mineral yang dapat Meningkatkan Sistem Imun Orang Tua

Beta-glucan. Adalah sejenis gula kompleks (polisakarida) yang diperoleh dari dinding sel ragi roti, gandum, jamur (maitake). Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa beta glucan dapat mengaktifkan sel darah putih (makrofag dan neutrofil).

Hormon DHEA. Studi menggambarkan hubungan signifikan antara DHEA dengan aktivasi fungsi imun pada kelompok orang tua yang diberikan DHEA level tinggi dan rendah. Juga wanita menopause mengalami peningkatan fungsi imun dalam waktu 3 minggu setelah diberikan DHEA.

Protein: arginin dan glutamin. Lebih efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan penurunan infeksi pasca-pembedahan. Arginin

mempengaruhi fungsi sel T, penyembuhan luka, pertumbuhan tumor, dans ekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon. Glutamin, asam amino semi esensial berfungsi sebagai bahan bakar dalam merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T dan neutrofil.

Lemak. Defisiensi asam linoleat (asam lemak omega 6) menekan respons antibodi, dan kelebihan intake asam linoleat menghilangkan fungsi sel T. Konsumsi tinggi asam lemak omega 3 dapat menurunkan sel T helper, produksi cytokine.

Yoghurt yang mengandung Lactobacillus acidophilus dan probiotik lain. Meningkatkan aktivitas sel darah putih sehingga menurunkan penyakit kanker, infeksi usus dan lambung, dan beberapa reaksi alergi.

Mikronutrien (vitamin dan mineral). Vitamin yang berperan penting dalam memelihara system imun tubuh orang tua adalah vitamin A, C, D, E, B6, dan B12. Mineral yang mempengaruhi kekebalan tubuh adalah Zn, Fe, Cu, asam folat, dan  Se.

Zinc. Menurunkan gejala dan lama penyakit influenza. Secara tidak langsung mempengaruhi fungsi imun melalui peran sebagai kofaktor dalam pembentukan DNA, RNA, dan protein sehingga meningkatkan pembelahan sellular. Defisiensi Zn secara langsung menurunkan produksi limfosit T, respons limfosit T untuk stimulasi/rangsangan, dan produksi IL-2.

Lycopene. Meningkatkan konsentrasi sel Natural Killer (NK)

Asam Folat 9. Meningkatkan sistem imun pada kelompok lansia. Studi di Canada padasekelompok hewan tikus melalui pemberian asam folate dapat meningkatkan distribusi sel T dan respons mitogen (pembelahan sel untuk meningkatkan respons imun). Studi terbaru menunjukkan intake asam folat yang tinggi mungkin meningkatkan memori populasi lansia.

Fe (Iron). Mempengaruhi imunitas humoral dan sellular dan menurunkan produksi IL-1.

Vitamin E 10. Melindungi sel dari degenerasi yangterjadi pada proses penuaan. Studi yang dilakukanoleh Simin Meydani, PhD. di Bostonmenyimpulkan bahwa vitamin E dapat membantu peningkatan respons imun pada penduduk lanjut usia. Vitamin E adalah antioksidan yang melindungi sel dan jaringan dari kerusakan secara bertahap akibat oksidasi yang berlebihan. Akibat penuaan pada respons imun adalah oksidatif secara alamiah sehingga harus dimodulasi oleh vitamin E.

Vitamin C. Meningkatkan level interferon dan aktivitas sel imun pada orang tua, meningkatkan aktivitas limfosit dan makrofag, serta memperbaiki migrasi dan mobilitas leukosit dari serangan infeksi virus, contohnya virus influenzae.

Vitamin A. Berperan penting dalam imunitas nonspesifik melalui proses pematangan sel-sel T dan merangsang fungsi sel T untuk melawan antigen asing, menolong mukosa membran termasuk paruparu dari invasi mikroorganisme, menghasilkan mukus sebagai antibodi tertentu seperti: leukosit, air, epitel, dan garam organik, serta menurunkan mortalitas campak dan diare. Beta karoten (prekursor vitamin A) meningkatkan jumlah monosit, dan mungkin berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit, dan makrofag. Gabungan/kombinasi vitamin A, C, dan E secara signifikan memperbaiki jumlah dan aktivitas sel imun pada orang tua. Hal itu didukung oleh studi yang dilakukan di Perancis terhadap penghuni panti wreda tahun 1997. Mereka yang diberikan suplementasi multivitamin (A, C, dan E) memiliki infeksi pernapasan dan urogenital lebih rendah daripada kelompok yang hanya diberikan plasebo.

Vitamin D. Menghambat respons limfosit Th-1.

Kelompok Vitamin B. Terlibat dengan enzim yang membuat konstituen sistem imun. Pada penderita anemia defisiensi vitamin B12

mengalami penurunan sel darah putih dikaitkan dengan fungsi imun. Setelah diberikan suplementasi vitamin B12, terdapat peningkatan jumlah sel darah putih. Defisiensi vitamin B12 pada orang tua disebabkan oleh menurunnya produksi sel parietal yang penting bagi absorpsi vitamin B12. Pemberian vitamin B6 (koenzim) pada orang tua dapat memperbaiki respons limfosit yang menyerang sistem imun, berperan penting dalam produksi protein dan asam nukleat. Defisiensi vitamin B6 menimbulkan atrofi pada jaringan limfoid sehingga merusak fungsi limfoid dan merusak sintesis asam nukleat, serta menurunnya pembentukan antibodi dan imunitas sellular.

5. STRATEGI PENCEGAHAN KECELAKAAN PADA USIA LANJUT

Strategi pencegahan kecelakaan pada usia lanjut adalah sebagai berikut

1.      Identifikasi Faktor resiko, beberapa strateginya adalah

  • Perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologic, musculoskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh.
  • Keadaan lingkungan yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan
  • Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan
  • Lantai rumah datar, tidak licin, bersihkan benda-benda kecil yang susah dilihat
  • Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu mudah dibuka.
  • WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.
  • Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.

2.      Penilaian Keseimbangan dan gaya berjalan (Gait), beberapa strateginya adalah

  • Harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi
  • Bila goyangan badan saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka perlu bantuan latihan oleh rehabilitasi medic
  • Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah cukup untuk berjalan tanpa bantuan.

3.      Mengatur/Mengatasi factor Situasional, beberapa strateginya adalah

  • Factor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan
  • Factor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita
  • Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik.

Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau berisiko tinggi

6. PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT PADA USIA LANJUT

Perubahan pada gigi dan mulut  pada usia lanjut adalah

1.      Perubahan pada gigi dan jaringan penyangga

Pada lansia gigi permanen menjadi lebih kering, lebih rapuh, berwarna lebih gelap, permukaan oklusal gigi lebih datar karena pergeseran gigi selama mastikasi. Selain itu pada lansia juga terdapat atrofi pada ginggiva dan procesus alveolaris dan gigi mudah goyang dan tanggal.

2.      Perubahan pada intermaxilary space

Perubahan dentofasial, yaitu dagu masuk ke depan, keriput meluas dari sudut bibir dan sudut maksila. Bisa dicegah dengan restorasi gigi yang baik, pergantian gigi yang hilang dan control gigi tiruan secara periodic.

3.      Perubahan efisiensi alat kunyah

Hilangnya gigi geliga sehingga daya kunyah berkurang, akibatnya pengunyahan lebih lama, sehingga harus diberikan makanan lunak.

4.      Perubahan mukosa mulut dan lidah, yaitu

  • Atrofi pada bibir, mukosa mulut dan lidah, sehingga rentan terjadinya iritasi mekanik, kimia, bakteri
  • Aliran saliva berkurang, mukosa mulut kering dan berkurangnya retensi gigi tiruan
  • Atrofi papil lidah dan kehilangan tonus otot

Kelainan Gigi dan Mulut pada Lansia , adalah

1.      Kelainan Mukosa Mulut

2.      Kelainan dalam Mulut